27.3 C
Jakarta
Jumat, 14 Juni 2024

Sekolah Disusupi Paham Radikalisme, Pentingnya Berpikir Kritis dan Tidak Permisif

Banyak orang memiliki ekspektasi cukup tinggi terhadap sekolah. Di ruangan kelas itu menyala-nyala harapan dari orang tua dan lingkungan. Mereka yakin anak-anak yang di dalamnya bisa mendapatkan pendidikan akademik maupun pendidikan karakter yang mumpuni. Tapi, bagaimana jika yang terjadi justru jauh dari harapan? Bagaimana jika di sekolah malah disusupi paham radikalisme?

Salah seorang bernama Nala (nama disamarkan) bersekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) yang paling favorit di daerahnya. Ternyata sekolah negeri, kepala, sekolah, dan lingkungan kurang bisa dijadikan jaminan bahwa sekolah tersebut terbebas dari pengaruh radikalisme dan ekstremisme.

Sekolah Permisif dengan Kelompok Radikal

Kelompok ekstrakurikuler Rohis (Rohani Islam) di sekolah Bulan cukup punya kedudukan dan kekuasaan untuk mengadakan beragam kegiatan dan mendapatkan dukungan dari pihak luar. Kepala sekolah dan guru saat itu seolah punya ketakutan dan takluk dengan pergerakan yang ada di Rohis. Tiap Jumat pagi, anak-anak belasan tahun itu dikumpulkan di aula untuk mendengarkan kajian yang memuat ajaran radikal dan ekstrem, misalnya mengenai khilafah, hijrah, doktrin-doktrin yang merendahkan perempuan.

Nala yang merasa tidak nyaman pun sering membolos tidak mengikuti kajian. Selain itu, tiap Jumat siang ada keputrian yang mana Nala kurang tahu bahasannya karena belum pernah mengikutinya. Namun, dalam agenda tersebut memungkinkan menyusupi doktrin yang lebih eksklusif kepada kelompok.

“Rohis SMA tidak bisa diintervensi oleh kepala sekolah karena kegiatan juga berada di luar sekolah. Ada parpol (partai politik), ormas (organisasi kemasyarakatan), dan alumni yang masuk, menarik ke luar sekolah, kemudian memasukkan ide-ide radikalisme”, Nala jadi teringat dengan perkataan Pak Farid dari Solo Bersimfoni.

Meskipun Nala tidak tergabung dalam Rohis dan tidak rutin ikut kajian, ia merasa terbatasi ketika berada di lingkungan sekolah. Rasa tidak bebas itu berpengaruh kepada ia takut berekspresi karena takut dikomentari dalam berpakaian dan berperilaku. Hal tersebut merugikan Nala karena ia merasa terkekang dan tidak bisa mendapatkan pengetahuan yang lebih luas dan tidak berani mengeksplor kemampuan.

Penelitian Convey Indonesia, 2018 tentang Ancaman Radikal di Sekolah menunjukkan bahwa guru PAI (Pendidikan Agama Islam) umumnya moderat, namun cenderung memiliki aksi intoleran. Hal ini tentu akan berpengaruh kepada dara mereka mengajar dan apa yang diajarkan kepada murid di sekolah.

Kajian, Doktrin Menakutkan, dan Paksaan Beramal

Beberapa kajian yang Nala tidak cocok, seperti larangan hormat kepada bendera, perempuan yang disalahkan tidak memakai jilbab dan akan menyeret ayahnya ke neraka, perempuan tidak berjilbab kerap diibaratkan lolipop yang nggak dibungkus dan dikerubungi semut. Bukannya merasa damai, Nala malah merasa gerah dengan pembahasan yang terus menyudutkan dan keterlaluan.

Selain itu, ketika kajian disuruh disuruh beramal sebanyak-banyaknya sampai habis isi dompet, padahal tidak jelas donasi tersebut akan diberikan kepada siapa. Nala khawatir kalau uang tersebut digunakan untuk membiayai aksi teror. Seharusnya, beramal itu dilakukan dengan keikhlasan, bukan dipaksa, dan memperhitungkan kemampuan diri sendiri agar tidak merugikan di kemudian hari. Sebagai siswa, Nala merasa seperti diperas, untungnya ia masih bisa menggunakan logika dan berpikir kritis.

Sekolah Bisa Apa?

Sebelum kejadian seperti di sekolah Nala, hendaknya sekolah bisa menyaring setiap kelompok dan relasi yang ingin mengadakan kegiatan, bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyakarat (LSM) yang berfokus kepada perdamaian, berkomunikasi dengan orang tua mengenai perkembangan anak dan kegiatan yang akan diselenggarakan, peningkatan kapasitas guru mengenai nilai-nilai toleransi, dan meneladani nilai-nilai perdamaian yang ada dalam tradisi dan budaya masyarakat sekitar.

Menurut Irfan Amalee dari PeaceGen, hanya 15% orang Indonesia yang punya meaningful contact (hubungan bermakna) dengan orang yang berbeda. Maka, kegiatan-kegiatan bernuansa pluralisme perlu diadakan dan diperkenalkan di sekolah. Karena adanya ruang-ruang perjumpaan dengan mereka yang berbeda itu bisa mencegah siswa merasa lebih baik daripada lainnya.

Dengan bertemu dan berinteraksi dengan kelompok yang berbeda, empati siswa tumbuh, memicu diskusi, dan berkurang prasangka buruk. Untuk mewujudkan sekolah yang aman dan nyaman untuk belajar, serta jauh dari ajaran radikalisme itu perlu kerja sama kepala sekolah, guru, siswa, orang tua siswa, LSM, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah, dan sebagainya.

TERBARU

Konten Terkait