26.4 C
Jakarta
Jumat, 14 Juni 2024

Cerita Napiter Perempuan: Aksi dan Dukungan Bangkit dari Stigma Teroris

Dalam realita sosial, kita dihadapkan oleh berbagai perilaku yang berhubungan dengan tindak sosial itu sendiri. Tak lain adalah sebuah stigma, di mana hal ini menjadi suatu hal turut menghiasi diri individu dari individu dan kelompok yang lainnya. Sehingga, hidup dari belenggu stigma bukan perkara yang mudah melainkan dengan perjuangan dan dukungan-dukungan orang terdekat. Sehubungan dengan ini, salah satu hal yang juga menjadi perhatian yakni stigma seseorang atas pengalaman pribadi seseorang (baca: narapidana) atas sebuah kasus dalam hal ini adalah terorisme yang menghantui masyarakat setempat.

Kemudian, hal ini menjadi belenggu baik korban maupun tersangka. Kendati demikian, sebagian orang memilih pada jalur perjuangan, yakni keluar dari stigma dan membentuk sebuah value dan perubahan terhadap dirinya. Dalam hal ini, kita patut menilik perjuangan salah satu tersangka napiter yang bebas dan kembali pada lingkungan masyarakat. Tentu bukan hal mudah dalam memulai dan menjalani kehidupan pasca menjadi tersangka pelaku terorisme.

Seperti yang kita ketahui bahwa terorisme merupakan suatu perbuatan yang menggunakan kekerasan dalam mencapai sebuah tujuan baik politik atau ideologis. Dengan ini kita juga menyaksikan bagaimana akibat dari perbuatan tersebut yakni korban yang berjatuhan, rusaknya sarana umum, rumah ibadah, kantor polisi berikut traumatis korban, baik dari sisi fisik maupun psikis. Kendati demikian, mengucilkan mantan napiter bukan semata-mata menjadi solusi melainkan menjeburkannya kembali pada lubang yang sama. Hal ini dituturkan oleh Salsa sebagai mantan napiter bahwa ia sangat bersyukur bisa diterima di masyarakat, karena jika tidak diterima di masyarakat, ia mengakui akan masuk pada lingkaran awal yang memasukkannya pada jurang radikalisme sampai terorisme.

Dalam kesempatan WGWC talk, Salsa (bukan nama sebenarnya) mengungkapkan rasa syukur karena lingkungan tempatnya hidup tidak sepenuhnya mengucilkan bahkan mendapat sebuah dukungan, sehingga ia bisa keluar dari berbagai macam stigma yang selama ini menghantui dan menjadi sebuah kekhawatirannya. Kekhawatiran itu meliputi diskriminasi, dikucilkan dan lain sebagainya. Di dalam lingkungannya yang dahulu ia dicap murtad, kafir dan lainnya.

Sementara pada lingkungan masyarakat, ia merasakan kekhawatiran sebagai penyintas yang akan dilegitimasi sebagai perempuan yang anti NKRI karena latar belakngnya menjadi teroris yang berlawanan dengan konstitusi negara. Untuk mengisi hari-harinya, Salsa melakukan berbagai hal seperti berkebun dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Salsa merespon keadaan dirinya dengan lebih menikmati kehidupan di dunia nyata setelah sebelumnya ia menghabiskan waktunya di dalam media sosial untuk belajar dan membuat serta memulai sebuah gerakan.

Pihak Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memberinya bantuan berupa modal usaha. Ketika mendapat pendampingan, Salsa memperoleh hal baru, ia dibuka pemikirannya sehingga diberi harapan agar hidup bisa dan terus berkembang. Berbanding terbalik dengan jaringan radikalismenya dahulu dengan pandangan yang lurus (cenderung kaku), yang membuat dirinya tercebur dalam jurang terorisme ini. Setelah keluar dari lapas, Salsa mendapat kehidupannya yang baru, bahkan dia diberi dukungan oleh berbagai lini, baik pemerintah dan masyarakat sebagaimana yang sudah disebutkan.

Hal ini sangat membantu memulihkan dirinya dari paham-paham yang lalu (baca: radikalisme dan terorisme). Dengan demikian, kita bisa mengambil pelajaran bahwa dalam penanggulangan terorisme bisa dilakukan dengan cara memulihkan para tersangkanya. Dengan memulihkan tersangka setidaknya kita memberi sebuah harapan baru, warna baru terhadap manusia yang lain sebagaimana anjuran dalam berta’awun dan melakukan hablu minannas. Dari sudut pandang yang lain, kita bisa menggali banyak informasi mengenai tindak terorisme dari penyintas atau orang pertama dari pelaku.

Sehingga, dibutuhkan adanya dukungan dari elemen lain yang bisa memulihkan diri dan pemikirannya dari keterbelengguan radikalisme dan terorisme. Salsa merupakan salah satu dari banyaknya penyintas terorisme khususnya napiter perempuan. Ia memilih untuk lepas dari cengkeraman radikalisme, kendati hemat penulis pilihannya ini juga bermula dari dukungan pihak sekitar, karena jika tidak ada dukungan, kemungkinan yang akan terjadi adalah kembalinya dia ke dalam jaringan radikalisme dan terorisme seperti sedia kala. Sehingga, sikap kesalingan juga diperlukan untuk menepis adanya gerakan-gerakan radikalis berbasis kekerasan tersebut.

TERBARU

Konten Terkait