27.3 C
Jakarta
Jumat, 14 Juni 2024

Pernikahan: Gerbang Utama Perempuan Menjadi Teroris?

Pernikahan menjadi ruang baru yang ditempuh oleh seorang laki-laki dan perempuan yang sudah siap. Dalam Islam, pernikahan adalah Sunnah Rasul apabila dilaksanakan dengan keikhlasan hati. Tentu, pemaknaan ini sangat luas, tergantung perspektif kita sebagai manusia dalam menyikapi hubungan dua insan yang sebelumnya, tidak saling mengenal kemudian dipersatukan dalam jangka waktu seumur hidup.

Namun, dalam menyikapi pernikahan, institusi keluarga menjadi salah satu basis utama dalam penyebaran terorisme. Artinya, apabila seorang suami atau ayah bergabung dalam kelompok teroris, maka bisa dipastikan sang istri atau ibu dalam keluarga tersebut ikut arus. Demikian pula jika sang ibu sudah menjadi jihadis, maka bisa dipastikan seluruh anggota keluarga akan ikut ibu. Besarnya pengaruh perempuan (istri/ibu) dalam sebuah keluarga, menciptakan peran perempuan sebagai aktor pencegah terorisme atau justru sebaliknya.

Menarik untuk dikaji, bagaimana model pernikahan dalam keluarga teroris. Apakah ada perbedaan? Tentu. Hal ini karena terdapat ideologi besar yang berkembang dalam institusi keluarga yang sedang dibangun. Bagi perempuan, pernikahan bisa menjadi pintu krusial untuk masuk ke dalam kelompok teror, karena dari sinilah suami menjadi aktor terhadap keberlangsung proses ideologisasi dalam keluarga. Dalam kelompok teroris, pernikahan dibagi dalam beberapa hal, di antaranya:

Pertama, pernikahan biasa, di mana perempuan awalnya menikah dengan laki-laki non-jihadis. Namun, setelah mereka menyaksikan perubahan suaminya bergabung dengan kelompok teror, mereka pun mengikuti perubahan suaminya. Kedua, pernikahan di mana wanita yang ingin menikah laki-laki jihadis. Mereka percaya itu laki-laki jihadis adalah suami idaman dan pantas menjadi istrinya. Beberapa pengajian mengembangkan gambaran pasangan idaman bagi seorang wanita, seperti kesucian atau kebersihan, dengan berbagai kriteria lainnya karena fokus pada suami yang sempurna dan diarahkan oleh sang suami.

Oleh karena itu, wanita termotivasi untuk mendapatkan suami seperti ini. Banyak umat Islam yang menggunakan hadis yang disampaikan oleh Bukhori, Muslim, Al-Nasa’, Abu Dawud Ibn Majah, Ahmad Ibn Hanbal, dan Al Darini yang menyebutkan empat kriteria yang harus diperhatikan dalam mencari jodoh: harta, keturunan, muka, dan agama. Namun demikian, dalam standar-standar ini, agama menjadi kriteria yang dominan.

Ketiga, pernikahan sebagai instrumen. Pertanyaan tentang pernikahan sebagai alat untuk merekrut perempuan yang digunakan untuk memperluas aliansi juga tersebar luas di kalangan perempuan Barat. Laki-laki jihadis di Timur Tengah mendekati mereka melalui media sosial. Pendekatan yang dilakukan di media sosial ini, membuat perempuan lengah dengan menihilkan latar belakang keagamaan yang dimiliki oleh sang calon. Akhirnya, setelah menikah, tanpa disadari seorang perempuan sudah terperangkap dalam lubang buaya (red; terorisme).

Dalam konteks di atas, Ika Puspitasari, perempuan mantan narapidana terorisme, pernah menjadi pengantin pelaku bom bunuh diri. Ika menikah dengan mantan suaminya, Zainal Akbar (seorang teroris) dan dijadikan mata-mata saat Ika bekerja di Taiwan. Dengan demikian, pernikahan bagi kelompok teroris, tidaklah dimaknai sebagai ruang penyempurna agama yang di dalamnya terdapat dinamika kehidupan sosial keagamaan yang selalu dibangun dengan baik. Akan tetapi, justru pernikahan dijadikan ruang untuk memperlancar gerak teror. Na’udzubillah.

Pemahaman Agama Sangat Penting Dimiliki oleh Setiap Manusia
Berdasarkan penjelasan di atas, penulis memperoleh kesimpulan bahwa, pentingnya belajar agama bagi setiap manusia untuk membekali diri dari kehancuran dan potensi menghancurkan diri sendiri. Mengapa kehancuran? Terlibat dalam kelompok teroris berarti bukti kehancuran diri sendiri, karena sudah salah kaprah memahami agama yang sebetulnya berisi ajaran damai dan cinta kasih.

Selain itu, memahami agama secara kaffah dengan melihat esensi agama yang cinta kasih, akan mengantarkan kita pada sikap selektif dalam memilih pasangan. Kalaupun kemungkinan terburuk di pada masa yang akan datang, ternyata pasangan kita adalah sosok jihadis, sikap tegas akan tampil karena pondasi atas pemahaman agama yang dimiliki. Sikap tidak toleran terhadap para teroris yang mengatasnamakan agama adalah hal wajib. Bahkan dengan imbalan surga sekalipun, orang yang benar-benar memahami agama tidak akan bergabung dalam kelompok teroris karena sudah memahami bahwa, terorisme bukan bagian dari ajaran agama manapun.

TERBARU

Konten Terkait