27.3 C
Jakarta
Jumat, 14 Juni 2024

Cerita Anak Korban Bom Kuningan

Pengalaman Anak Korban

Berbagai peristiwa ledakan bom di sejumlah tempat di Indonesia beberapa dekade tahun lalu, tentu saja meninggalkan luka dan trauma yang abadi bagi korban. Luka yang tak akan pernah bisa sembuh, trauma yang tak akan pernah bisa dihapus, dan kehilangan yang tak akan pernah ada lagi. Tak hanya korban langsung yang merasakan luka dan trauma yang begitu dalam keluarga korban. Terutama anak korban juga pasti mengalami dampak berupa luka dan trauma. Dalam kesempatan itu, WGWC Talk Seri 30 “Untold and Unhear Story, Melampaui Trauma: Waktu Menyembuhkan Patah Hati, Tapi Begitulah Jalannya” dengan mengangkat suara cerita anak korban agar lebih didengar dan diketahui.

Cerita pertama dari Sarah Darien Salasabila. Ia menjadi anak korban pada peristiwa bom kuningan yang terjadi pada tanggal 9 September 2004 di Kedubes Australia, Jakarta. Ia menceritakan, pada tahun 2004 Ayahnya (Iwan) sedang membonceng istrinya untuk memeriksakan kandungan anak kedua (adiknya Sarah) yang sudah berusia 8 bulan ke sebuah klinik di Manggarai, Jakarta Selatan. Namun saat melajukan kendaraan di Jalan Rasuna Said, Kuningan, sebuah bom meledak di depan Kedutaan Besar (Kedubes) Australia.

Seketika bom tersebut menghancurkan gedung dan menghamburkan segala isinya ke segala penjuru. Tak terbilang berapa jumlah reruntuhan yang meluluhlantakan korban yang terdampak di sekitar. Seperti halnya Iwan dan sang istri, mereka terpental dari motor dan istrinya mengalami sejumlah luka pada bagian pelipis, lengan, kaki dan tulang punggung belakang. Iwan juga mengalami nyeri pada mata kanannya, ia terkena besi berukuran kurang lebih 3 cm yang menancap pada bola matanya.

Sarah masih berumur 2 tahun, belum begitu memahami dan mengingat dengan jelas musibah yang menimpa keluarganya. Namun, tahun-tahun berikutnya keadaan tidaklah sama seperti halnya kebahagiaan yang dirasakan anak kecil lainnya. Tepat dihari ulang tahun Sarah yang kelima, ibunya meninggal dunia setelah berjuang selama kurang lebih 3 tahun melawan rasa sakit akibat serangan bom di Kedubes Australia.

Sulit bagi Sarah untuk memahami makna sebenarnya dari kehilangan dan menjadi korban bom, saat itu usianya masih begitu belia. Meski orang-orang berkumpul dan berdatangan di hari ultahnya, namun bukan wajah bahagia yang mereka bawa, melainkan duka atas meninggalnya ibunya Sarah. Sarah kecil waktu itu pernah bertanya kepada Ayahnya perihal keberadaan ibunya. Iwan-ayahnya Sarah menjawab bahwa ibunya berada di rumah Allah yaitu Masjid. Sarah kemudian sempat menghilang dan ketika dicari ternyata ia berada di Masjid untuk menunggu ibunya agar pulang.

Dukungan Keluarga dan Lembaga Terkait
Sarah mulai menyadari arti kehilangan ketika mulai memasuki masa remaja, khususnya saat SMP. Pada masa SMP, menjadi periode untuk mulai memahami arti sejati dari kehilangan dan menjadi korban bom. Perjalanan tersebut, bukan hanya tentang kehilangan fisik, tetapi juga kehilangan emosional dan makna yang terkait dengan status korban. Sebagai salah satu program deradikalisasi, Sarah bersama dengan adik dan ayahnya juga pernah bertemu langsung dengan pelaku bom kuningan di Nusa Kambangan saat SMA.

Keberanian dan kebesaran hatinya untuk bertemu dengan Napiter adalah buah dari dukungan keluarga, khususnya ayahnya. Sarah merasa tidak perlu ada rasa dendam sebab hanya akan semakin menyakiti dirinya. Ia juga belajar dari ayahnya (sebagai korban langsung) yang begitu ikhlas dan mau memaafkan pelaku, meski telah mengalami luka dan trauma serta kehilangan istri dan pekerjaan. Dalam masa tersebut, Sarah remaja juga menjadi pribadi yang lebih sensitif, setiap ada moment haru, hatinya mudah sedih. Sensitivitas ini membentuk karakter dirinya menjadi sulit untuk marah dan mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Harapan dari Masa Lalu
Memilih melanjutkan hidup dan jangan sampai menjadi seperti pelaku. Itulah harapan Sarah atas pengalaman dari perjalanan hidupnya. Meski memiliki luka dan trauma masa lalu, Sarah tetap optimis dan memilih jalan damai. Tidak ada bantuan psikis yang Sarah terima, walaupun bisa saja ia dapatkan ketika mau mengajuan. Namun bagi Sarah, kesibukannya di sekolah dulu juga telah membantu ia menyembuhkan luka dan mengembangkan dirinya. Harapan Sarah saat ini adalah bisa mendapat dukungan dan bantuan dari lembaga terkait untuk menggapai cita-citanya agar menjadi sarah yang lebih mandiri, berdaya, dan penuh inspirasi.

TERBARU

Konten Terkait