26.1 C
Jakarta
Senin, 15 April 2024

Refleksi Diri: Spirit FOSPETA

Terharu namun, tubuhku bergetar dan berkeringat dingin. Ada bayang-bayang air mata yang ingin keluar dari kedua mataku. Aku mengingat kembali apa yang sudah aku lalui selama ini. Berkutat dengan isu yang dianggap sensitif bagi kalangan tertentu, yaitu terorisme. Namun, aku tak menyangka aku bertahan dan bahkan terus bersemangat.

Pada pertemuan Sabtu, 18 November 2023 di Jakarta bersama para istri mantan narapidana terorisme, menggugah nurani. Selama sesi berlangsung, kira-kira lima jam menemani mereka dalam acara Sosialisasi FOSPETA, aku terus gemetar. Tubuhku merasakan lemas tiada tara, tapi aku kuat karena mendengarkan banyak apresiasi dan termotivasi untuk selalu bersyukur karena mendengar cerita bagaimana para istri mengalami kesulitan dalam hidup.

Kesulitan itu bukan lagi soal tentang ekonomi, tetapi tantangan sulitnya memasukan anak-anak di sekolah yang dituju. Alasannya, karena latar belakang ayahnya. Contoh lainnya juga bagaimana para orang tua, menjelaskan kasus masa lalu sang ayah kepada anak-anak mereka saat ini. Lalu, energi dari peserta itu membuatku terus melanjutkan diriku untuk memperkenalkan FOSPETA.

FOSPETA memiliki singkatan Forum Support Perempuan Tangguh. Forum ini dibuat tahun lalu. Aku menyimak bagaimana dua tim FOSPETA mewakili pengurus lainnya mengenalkan apa itu FOSPETA, visi dan misi, serta aktivitas forum ini. Aku tersipu malu. Sejujurnya, aku menginisiasi FOSPETA agar bisa terbentuk bersama tim DASPR bergandeng tangan dengan WGWC, tapi aku sendiri tidak setangguh itu. Itu adalah dalam benakku saat itu.

Kemudian, berlalu memperhatikan bagaimana semangat membara dari ibu-ibu yang hadir dan juga testimoni FOSPETA memupuk harapanku untuk bangkit. Momentum ini tidak pernah aku bayangkan akan mencambuk diriku bahwa aku hidup penuh dengan alasan.

Kamu lihat apa yang kamu lakukan untuk orang lain? Kini bantulah dirimu untuk bugar kembali dan menata hari-hari yang indah dan positif!” sahutan itu terus mengusik kepalaku.

Hingga pada akhirnya, sepulang dari acara aku tertegun dan memikirkan betapa hari ini aku bukan saja hadir pada kegiatan yang bertujuan memberdayakan perempuan, tetapi memberdayakan diriku sendiri. Tidak ada gading yang tak retak. Begitu aku mengingat pepatah itu. Aku pun mengingat perkataan lain bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Dari hari itu, aku belajar bahwa meski aku sebagai pekerja sosial – bekerja untuk mendampingi orang lain dalam masa-masa sulit, aku juga harus mendampingi dan hadir untuk diriku melalui masa sulit.

Besar harapanku FOSPETA akan terus hadir dan menjelma dalam bentuk energi positif. Semoga dengan cerita ini mengukuhkan bahwa FOSPETA bukan hanya sekedar forum biasa. Tetapi FOSPETA adalah forum luar biasa, saling menguatkan dan tidak ada yang merasa aku lebih hebat dan bisa.

FOSPETA tempat untuk mengambil hikmah dan pelajaran. FOSPETA diharapkan dapat menularkan energinya pada perempuan-perempuan lain. Meski baru saja dibentuk, sesungguhnya spirit FOSPETA sudah ada sejak lama, sejak pertama kali aku terlibat dalam Program Resiliensi Keluarga di 2019. Semoga dengan hadirnya forum ini, lebih banyak perempuan yang merasakan manfaatnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Semoga energi-energi positif terus dilahirkan FOSPETA dengan segala upaya yang ada.

Sesuai dengan tema dalam pertemuan ini adalah “Mengukir Kekuatan Bersama: Silaturahmi Perempuan Tangguh & Sosialisasi FOSPETA”. Hal ini juga sejalan dengan visi FOSPETA, yaitu “Menjadi wadah yang nyaman dan aman untuk menciptakan dan mengembangkan potensi perempuan (istri dan keluarga) mantan napiter”.

Ternyata, tidak hanya saja bagi para keluarga perempuan mantan napiter, FOSPETA telah memberikan ruang baru bagiku dan lainnya untuk mengekspresikan perasaan, pengalaman, pelajaran, dan kebutuhan dukungan sosial. Aku merasa dalam pertemuan itu banyak hal yang menjadi pekerjaan di masa depan. Baik itu terkait dengan program yang dibutuhkan untuk sasaran FOSPETA maupun masyarakat secara umum, tetapi untuk diriku sebagai pendamping.

Maka, sejak saat itu, aku mulai memikirkan bagaimana kapasitasku sebagai individu harus berkembang. Kemampuanku secara profesional terus ditingkatkan. Aku memikirkan untuk belajar lagi secara nonformal, seperti menjadi profesional dan bersertifikat sebagai fasilitator support group dan konselor muda.

Untuk menutup tulisan ini, aku ingin berbagi prinsip yang membantuku untuk tetap tenang dan tegar dalam menghadapi situasi sulit, yaitu aku hanya bisa melakukan dan menangani yang aku bisa, sisanya aku pasrahkan kepada yang Kuasa. Prinsip ini terinspirasi dari Reinhold Niebuhr, ia mengatakan “God grant me the serenity to accept the things I cannot change, the courage to change the things I can, and the wisdom to know the difference.” Maka dari itu, semoga refleksi ini bermanfaat bagi pembaca dan memetik hikmah dari tulisan ini.

TERBARU

Konten Terkait