26.1 C
Jakarta
Senin, 15 April 2024

Pemulihan dan Rehabilitasi Korban Aksi Terorisme

Aksi terorisme yang dilakukan oleh beberapa oknum kelompok ekstrim kanan hingga hari ini masih menjadi perhatian pemerintah. Meski pemerintah telah berupaya dalam melakukan pemberantasan, tapi nyatanya kelompok-kelompok teroris itu masih tumbuh dan berkembang. Bahkan program deradikalisasi yang dilakukan pemerintah belum sesuai dengan target yang diharapkan sebelumnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa hadirnya aksi teror di Indonesia pada satu dasawarsa ini cukup mengganggu merugikan masyarakat. Fenomena bom bunuh diri tersebut cukup menunjukkan bahwa aksi terorisme di Indonesia masih terus berkelanjutan. Aksi bom bunuh diri membawa kecemasan sosial baik individu ataupun kelompok dalam masyarakat. Ini dikarenakan pelaku bom bunuh diri tidak pandang bulu dalam melakukan aksinya. Pada akhirnya jika target utama mereka adalah non muslim, namun nyatanya orang muslim turut menjadi korban dalam aksi tersebut.

Akibat dari aksi ekstremis di ruang publik dalam bentuk bom bunuh diri membuat para korban yang selamat mengalami trauma yang cukup berat. Tidak hanya luka fisik tetapi juga para korban mengalami luka psikologis. Akibatnya, korban bom bunuh diri membutuhkan waktu yang cukup lama dalam memulihkan kembali luka serta trauma yang dialami. Oleh sebab itu dalam rangka pemulihan tersebut maka diperlukan langkah-langkah berupa rehabilitasi bagi para korban.

Rehabilitasi Korban Aksi Terorisme
Menjelang akhir tahun 2023 ini isu terkait terorisme sudah mulai surut. Mengutip dari republika.co.id Badan Nasional Penanggulanan Terorisme (BNPT) telah menyatakan bahwa indeks serangan terorisme di Indonesia telah mengalami penurunan sebesar 56% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kendati demikian, penurunan indkes tersebut tidak berpengaruh terhadap pemulihan para korban aksi terorisme.

Menyembuhkan kembali luka-luka traumatik bagi korban-korban aksi terorisme bukanlah hal yang mudah. Memerlukan waktu yang cukup lama dalam proses tersebut. Oleh sebab itu diperlukan program rehabilitasi secara intensif bagi para korban. Penulis sendiri beranggapan bahwa perhatian terhadap para korban harus lebih diutamakan dari pada para pelaku terorisme. Para pelaku terorisme mungkin hanya perlu rehabilitasi dalam bentuk meluruskan pemahaman serta pemikiran keagamaan mereka.

Tetapi berbeda dengan para korban aksi terorisme. Mereka memerlukan rehabilitasi berupa perawatan medis secara berkala akibat berbagai cedera fisik berupa luka bakar, tembak, atau bahkan kehilangan salah satu anggota tubuh. Cedera fisik yang dialami korban akan berdampak pada kesehatan mental dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Akibat dari rasa traumatik serta pengalaman menjadi korban aksi terorisme akan berdampak pada kesehatan mental korban yang mana akan mempengaruhi kelanjutan hidup mereka. dalam ranah sosial misalkan. Para korban akan merasa kehilangan kualitas hidup dan kemampuan bekerja. Sedangkan dalam ranah individu para korban akan kehilangan rasa percaya diri akibat cedera fisik yang dialami.

Oleh sebab itu, pemerintah harus lebih fokus dalam menangani para korban aksi terorisme dengan cara memaksimaklan progam-progam dalam rehabilitasi. Jika perlu langkah-langkah yang diambil harus dapat berdampak positif bagi para korban. Seperti menyediakan pendamping khusus dalam perawatan medis serta melakukan pendampingan dalam memulihkan kembali mental para korban.

Peran Eks-korban Aksi Terorisme dalam Rehabilitasi
Menyembuhkan rasa trauma akibat aksi terorisme bagi para korban memang membutuhkan waktu yang cukup lama. Tetapi tidak mustahil jika para korban berhasil terlepas dari luka fisik serta mental yang telah dialami. Oleh sebab itu para korban yang telah berhasil melewati masa-masa rehabilitasi sebaiknya turut berkontribusi dalam menangani para korban aksi terorisme yang lain.

Cukup dengan melakukan hal sederhana seperti berbagi pengalaman ketika sama-sama menjadi korban terorisme. Di sisi lain eks korban aksi terorisme juga dapat bercerita hal apa saja yang harus dilakukan agar tidak selamanya berada dalam luka psikologis terlalu lama. Penulis rasa kontribusi para eks korban aksi terorisme tersebut dapat membantu korban lain dalam menyembuhkan rasa trauma.

Keikut sertaan para eks korban aksi terorisme dalam menangani koban lain merupakan salah satu bentuk dari pendekatan humanis. Hal ini dalam rangka mengatasi reaksi emosional para korban pasca kejadian. Adanya strategi berbagi pengalaman secara terbuka kepada para korban lain merupakan sebagai bentuk dukungan emosional tentu saja dengan harapan agar proses pemulihan berlangsung lebih cepat.

TERBARU

Konten Terkait