26.7 C
Jakarta
Senin, 15 April 2024

Belajar dari Para Penyintas: Pulih dan Bangkit dari Traumatik Bom Bali 2002

Mayoritas masyarakat mengutuk keras terkait tindakan terorisme dalam bentuk apapun. Betapa tidak, tragedi semacam ini mengakibatkan berbagai macam kerugian. Mulai dari materi sampai non-materi seperti traumatik sampai depresi. Kendati demikian, masih saja ada oknum yang dengan sengaja melakukannya. Bagaimanapun alasannya kekerasan tidak dibenarkan dari sisi manapun.

Dalam hal ini agama tak jarang menajadi payung terhadap aksi-aksi yang biasanya disebut aksi terorisme. Tidak bisa dipungkiri legitimasi teroris kerap mengklaim “agama tertentu” karena style dan sebuah ciri yang menggambarkan agama tertentu. Hal ini yang pada akhirnya membuat sebuah asumsi dan legitimasi buruk atas agama tersebut. Kendati tidak ada agama satupun yang mengajarkan mengenai kekerasan.

Even agama Islam yang oleh sarjana barat pernah disbut sebagai the religion of holy war yang tak lepas dari sejarah masa lalu dan teks-teks agama, tetapi Islam sama sekali tidak membenarkan aksi keji tersebut. Sehingga klaim terhadap Islam harus diluruskan, sebagaimana ajaran murni nabi mengenai cinta dan kasih. Terlepas dari alasan-alasan spiritual tersebut, penulis meyakini bahwa kekerasan tersebut tidak bisa dikaitkan dengan agama manapun, kendati menggunakan atribut dan kalimat-kalimat agama untuk mendukung gerakannya.

Atas peristiwa tersebut, banyak pihak yang turut menanggung akibatnya. Banyak pihak yang turut serta dalam penyelesaian masalah tersebut, mulai dari edukasi, pemberian materi sebagaimana yang dilakukan pemerintah dalam sebuah Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) pada tahun 2020 yang memberikan kompensasi terhadap korban. Presiden Jokowidodo mengatakan bahwa Sejak 2018 upaya pemulihan korban dilakukan melalui LPSK, dalam bentuk pemberian kompensasi, bantuan medis, dan layanan psikologis serta rehabilitasi psikososial (Kompas.com).

Sehubungan dengan akibat dari penyintas (korban: terorisme), maka tidak hanya pemerintah yang turut andil dalam penyelesaian masalah ini. Melainkan dari masyarakat setempat juga turut andil dalam membantu sesama (ber-ta’awun) untuk bangkit dari trauma masa lalu, selain itu dalam memulihkan kembali perekonomian yang hancur akibat serangan para teroris. Karena masa depan para korban juga berharga sebagaimana masa depan masyarakat sipil lainnya.

Salah satu lokasi yang menjadi sasaran para teroris adalah Bali pada tahun 2002 silam. Kejadian ini pasti sangat membekas di dalam seluruh lapisan masyarakat Indonesia khususnya warga Bali. Betapa banyak korban yang menjadi tawanan rasa trauma, kecewa sampai kehilangan banyak hal termasuk pekerjaan dan yang lebih mengecewakan yakni kehilangan keluarga dan orang terdekat. BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia) mengtuk keras seluruh radikalisme dan tindakan terorisme dalam latarbelakang apapun.

Mengenang 21 tahun BOM Bali, kepala BNPT, Rycko Amelza Dahniel menyampaikan bahwa “kita semua menolak segala bentuk ideologi kekerasan, radikalisme dan tindak teror yang tidak berperikemanusiaan dengan mengatasnamakan agama”. Ledakan ini merupakan serangan paling mematikan sepanjang sejarah Indonesia, lebih dari 300 orang dari 22 negara meninggal dan luka-luka (bnpt.co.id, 2023). Kota Bali yang menjadi center of pariwisata bagi turis-turis yang datang ke Indonesia mengakibatkan banyaknya warga negara asing (WNA) yang tewas atas peristiwa tersebut.

Dari kejadian mengenaskan ini kita bisa melihat perjuangan-perjuangan para penyintas akibat tragedi Bom Bali, salah satunya adalah Jatmiko Bambang Supeno. Ia rela bolak balik dari kediamannya di Panjer, Denpasar Selatan, ke Universitas Udayana (Unud), Denpasar Barat, Denpasar, Bali. Hal ini dilakukan oleh Jatmiko untuk memulihkan trauma bom Bali 2002 silam dengan tindak psikologi oleh UK Universitas Udayana. Pemulihan yang dilakukan difasilitasi oleh Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Bambang melakukan rehabilitasi psikologis selama kurang lebih dua tahun. Jatmiko merupakan bartende yang berhasil selamat atas kejadian bom Bali, ia kabur dari bangunan yang luluh lantah dan berhasil menyelamatkan diri.(detik.com, 2023)

Selain Jatmiko, Ni Luh Erniati juga menjadi korban. Ia kehilangan suami dan harus mengurus anak-anaknya. Ia belajar menjahit dan bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Untuk mengobati psikikisnya, salah satu yang Erni lakukan adalah meluapkan ceritanya pada tersangka Teroris tentang kekecewaan dan peliknya kehidupan ketika bom itu hadir di tengah-tengah kehidupannya. Ali Fauzi sebagai tersangka sangat terpukul mendengar cerita tersebut dan tersungkur meminta maaf pada Erni atas peristiwa yang sudah terjadi.

Dari kisah-kisah ini, maka bisa dikatakan bahwa adanya badan dan gerakan untuk para penyintas terorisme sangat penting untuk dilakukan. Karena manusia perlu dihidupkan kembali untuk kehidupan yang lebih cerah kedepannya. Kemudian, mereka juga bisa terhindar dari bayang-bayang yang menghantui hari-harinya. Yang perlu ditekankan pula bahwa terorisme tidak dibenarkan oleh aliansi manapun kecuali para pemilik kepentingan yakni teroris itu sendiri.

TERBARU

Konten Terkait