27.3 C
Jakarta
Jumat, 14 Juni 2024

Media dan Potret Ekstremis Perempuan

Dalam sepuluh tahun terakhir, tren tindak kekerasan berbalut ekstremisme agama tidak lagi hanya dilakukan oleh laki-laki tapi juga perempuan. Di Indonesia pola yang sama juga terjadi. Padahal, di awal gerakan radikalisme, utamanya di tahun 1950-an, perempuan hanya menjadi tim pendukung semata, tanpa pernah bergerak di garis depan. Namun pendekatan itu berubah total, ketika gerakan radikalisme Islam global menyeruak ke permukaan. Di sejumlah negara, seperti Suriah, Libya, hingga Irak, perempuan tak lagi bergerak di pinggiran.

Mereka bahkan diberikan peran utama dalam menjalankan radikalisme, terutama ketika pendekatannya dilakukan secara daring. Melalui berbagai platform media sosial, para ekstremis perempuan ini dengan lantang menyerukan propaganda jihad agar banyak warganet tertarik untuk bergabung dengan mereka di Timur Tengah. Imbalan yang mereka janjikan pun sangat beragam: dari dicarikan pasangan, hingga mendapatkan jaminan rumah dengan lingkungan Islami.

Bagi orang awam yang baru belajar Islam, propaganda sejenis membuat mereka bagaikan diiming-imingi oase di tengah padang pasir. Para mualaf (orang yang baru masuk Islam) terutama di negara-negara Barat yang belajar Islam secara otodidak kerap terjerumus jebakan ini. Serta menganggapnya sebagai jalan keluar bagi mereka untuk keluar dari lingkungan kemaksiatan. Sesampainya di kamp kelompok radikal, apa yang mereka idealkan nyatanya jauh dari realita.

Banyak perempuan korban propaganda menyesal mengikuti bujuk rayu perekrut gerakan radikal yang bersebaran dari dunia maya. Mereka seperti mendapatkan tamparan keras ketika mengetahui bahwa cita-cita mereka tinggal di dunia Islam yang penuh kedamaian harus hancur lebur digantikan dengan carut marut potret kekerasan yang mereka saksikan tiap hari. Meski begitu, sejumlah perempuan korban propaganda ISIS justru tetap bersikukuh untuk membantu gerakan radikalisme.

Mereka yang telah tercuci otak malah kian yakin bahwa satu-satunya jalan meraih surga-Nya adalah bergabung dengan gerakan radikal dan menegakkan kekhalifahan global. Mereka bahkan tak segan-segan untuk menyerahkan diri sebagai pelaku bom karena mereka meyakini jalan tersebut sebagai cara mati mulia yang akan mengantarkan mereka meraih banyak pahala. Tak heran, dalam sejumlah kasus bom bunuh diri, pelakunya tak lagi didominasi oleh laki-laki tapi juga perempuan. Bahkan di kasus bom Surabaya, sang ibu dengan sengaja mengajak seluruh anggotanya termasuk buah hatinya untuk meledakkan diri demi “surga”.

Media dan Perempuan Ekstremis
Sayangnya, stigma di media mengenai perempuan ekstremis kerap melihat mereka hanya sebagai korban. Sehingga, penanganan dan pencegahan ekstremisme perempuan pun akhirnya kerap memicu kesalahpahaman pendekatan. Dalam sejumlah pemberitaan media ekstrem kanan, terutama dari media Kiblat.net dan Hidayatullah.com, mereka tidak menyetujui pelabelan bahwa perempuan dalam gerakan radikal juga bisa menjadi teroris.

Mereka menganggap bahwa perempuan dalam kasus ISIS di Suriah, hanya menjalankan kewajiban mereka dengan mengikuti perintah suami dan mengasuh anak-anak. Oleh sebab itu, pelabelan perempuan dengan sebutan pelaku ekstremis bagi dua media ini justru salah kaprah. Berbeda pendapat dengan apa yang diutarakan oleh Kiblat.net dan Hidayatullah.com, riset dari Ida, dkk (2023) memperlihatkan bahwa perempuan dalam gerakan radikal bisa berperan besar sebagai pelaku teror. Dari sejumlah kasus yang ada, kaum hawa dalam gerakan ini dimotivasi oleh tiga faktor.

Pertama, ideologi. Mereka mempercayai bahwa ideologi ISIS adalah satu-satunya kebenaran yang harus diperjuangkan. Mereka mengamininya tanpa tapi. Kedua, kohesi sosial. Mereka mendapat pengaruh kuat dari lingkungan dan komunitas kecil mereka secara intens. Mungkin, di awal mereka sempat ragu. Namun, karena nilai dan keyakinan itu terus diulang dan ditanamkan, akhirnya menjadi kepercayaan kuat yang mereka pegang teguh. Ketiga, pengkaderan.

Peran pihak ketiga, bisa jadi perekrut, guru agama atau mentor yang mendoktrinkan ideologi ekstremisme secara rutin. Bagi perempuan ekstremis, apa yang dititahkan oleh guru atau mentor mereka, mereka anggap sebagai kebenaran mutlak yang tidak perlu dibantah. Ketiga faktor tadi akhirnya mendorong perempuan tidak hanya mendukung gerakan radikal dari pinggiran, semata tapi akhirnya membuat mereka mampu menjadi pelaku utama.

Kesalahpahaman media memotret perempuan hanya sebagai korban pun akhirnya berujung pada penanganan tidak tepat. Bagaimana tidak, dalam sejumlah kasus bom bunuh diri, perempuan yang memiliki catatan ekstremisme seringkali lolos dari pengamatan petugas hanya karena ia perempuan. Pun, jika pihak keamanan hanya terdiri dari laki-laki saja, berarti selama ini perlu diakui bahwa kita masih kekurangan petugas perempuan yang mumpuni untuk mencegah munculnya teroris perempuan. Pertanyaannya: sampai kapan kita harus menunggu penanganan intensif dari pemerintah, kalua tidak sekarang?

TERBARU

Konten Terkait