26.1 C
Jakarta
Senin, 15 April 2024

Dampak dari Serangan Kelompok Ekstremisme, Sadarkah kita?

Ekstremisme tidak hanya merusak generasi bangsa sebagai agen of change yang menjadi harapan bersama. Ekstremisme yang tertuju pada terorisme menjadi momok dari segala macam traumatis dari segi materi, sosial sampai sikologi. Hal ini bukan tanpa alasan, seseorang yang terjerat ekstremisme melalui berbagai latarbelakang, mulai ekonomi, sumber belajar, politik sampai circle pertemanan memiliki sebuah tujuan dengan cara yang tentunya tidak dibenarkan khsusnya dari sisi kemanusiaan. Bukan hal baru jika anak muda sekarang-pun banyak yang terjerat isu tersebut.

Tanpa melihat dampaknya, para terorisme melancarkan gerakkannya dengan berbagai macam cara.Beberapa kasus terorisme diantaranya ada bom Bali pada tahun 2002 oleh JI. Kemudian ada pula serangan 13 gereja pada tahun 2000 oleh Al-Qaeda (Kompas.com, 23/4/2022). Hal yang menjadi problematik pasca serangan terorisme seperti pengeboman adalah traumatik dari para korban yang selamat. Orang-orang yang selamat memiliki traumatis mulai dari kehilangan orang-orang terdekat, cidera fisik, luka dan lain sebagainya.

Salah satu terdampak Bom bali mengakui bahwa setelah suaminya terenggut nyawanya ia harus menanggung semua kebutuhan keluarga dari sampai kebutuhan pendidikan anak-anaknya (Stefanus Ari Wicaksono: 2016). Dampak materi ini adalah hal yang pasti terjadi, sehingga seseorang harus menanggung seluruh beban materi yang awalnya bisa dilakukan bersama-sama. Hal ini tentu menjadi new habit yang dilakukan oleh seorang terdampak bom tersebut.

Dampak yang menjadi masalah kursial adalah traumatik dari terdampak terorisme tersebut. Dr. Micheal Craig Miller dari Harvard mentall Health Letter mengatakan bahwa orang yang berada di lokasi ledakan bom akan mengalami trauma atas peristiwa mengerikan tersebut. kemudian, bagi yang jauh dari ledakan bom akan merasakan kekhawatiran. Dr. Michael juga menambahkan bahwa orang-orang dapat merasakan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), setiap individu memiliki kasus yang berbeda tetapi dengan masa pemulihan yang cukup lama.

Beberapa Kasus PTSD memiliki beberapa tanda, diantaranya hyperarousal. Kondisi ini menjadikan korban merasakan waspada, gampang terkejut, mudah marah dan stres kronis. Kemudian, penderita PTSD juga susah untuk bergaul karena rasa trauma tersebut. kasus ini merupakan kasus yang cukup serius dan harus ditindak lanjuti. Beberapa kasus tersebut hanya sebagian kecil dari dampak atas traumatik korban. Faktanya, dampak pengeboman selalu terasa bagi terdampak baik yang langsung ataupun yang tidak langsung.

Dampak jangka panjang tersebut tentunya mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Apakah akan terbayangkan betapa suramnya bayang-bayang korban dan kerugian yang berdampak pada negara pula. Hemat penulis, kasus terorisme adalah kasus yang dimulai untuk sebuah kerusakan. Sehingga dibutuhkan penanganan yang cukup serius demi masa depan yang indah pula. Akankan terbayangkan bagaimana jika traumatis individu berlangsung dengan waktu yang cukup lama, maka dampaknya ke pada negara pula.

Jika yang mengalami adalah anak-anak atau anak muda maka negara kehilangan semangat juang anak muda, jika orang tua maka ia akan membawa pengaruh juga untuk anak-anaknya. Sehingga, kesadaran akan bahaya dari dampak serangan terorisme dalam arti “pengeboman atau kekerasan” harus tertanam pada diri setiap individu. Bukan tanpa alasan, karena dalam rangka menjaga sesama sebagaimana ajaran agama mengenai hablu minannas dan hablu minal alam yakni menjaga hubungan dengan manusia dan kepada alam selain hablu minallah sebagai hubungan vertikal kita terhadap Tuhan.

Sekalipun agama tidak membenarkan adanya kekerasan, faktanya masih banyak pula kekerasan yang mengatasnamakan agama. Dari beberapa literatur, serangan ini memliki berbagai macam latarbelakang sebagaimana yang sudah disebutkan. Disisi lain, dampak dari adanya kekerasan di dalam pelaku esktremisme tidak bisa dimaklumi begitu saja. Melihat banyanya dampak dari kerugian fisik sampai jiwa seseorang, maka kasus ini harus ditangani dengan baik pula.

Di samping itu, menjaga generasi agar tidak terjerumus ke dalam bahaya terorisme juga menjadi tanggungjawab bersama. Kemudian, dibutuhkan pula dukungan-dukungan bagi terdampak aksi terorisme untuk membangkitkannya dari trauma sekalipun di dalam medis hal ini membutuhkan waktu yang lama sebagaimana kasus PTSD yang telah disebutkan. Karena hal ini akan berakibat pula pada masa depannya sebagai manusia yang harus tetap hidup dan menjalani kehidupannya. Wallahua’lam bishshawab

TERBARU

Konten Terkait