28.3 C
Jakarta
Senin, 24 Juni 2024

Korban Teror: Proses Jalan Terjal Panjang Menuju Sembuh

Cerita yang dibawa oleh Drama Korea “It’s Okay Not to Be Okay”, dengan gambaran pasien di ‘rumah sakit jiwa ok’ menunjukkan bahwa, trauma yang dialami oleh seseorang akibat suatu peristiwa, yang ditunjukkan oleh Ko Mun Yeung, Moon Gang Tae, Moon Sang Tae, dan beberapa tokoh lain, butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan. Luka fisik ataupun psikis yang pernah dialami di masa silam, bisa disembuhkan melalui seiring waktu yang dialami oleh korban.

Bahkan bisa jadi, waktu sepanjang hidup yang dialami oleh korban dengan sakit psikis, digunakan untuk proses penyembuhan diri. Gambaran dalam drama tersebut, setidaknya sama halnya dengan para korban teror yang saat ini masih hidup. Pada kasus Bom Bali, misalnya. Pada 2002 silam, terjadi rangkaian pengeboman yang menewaskan ratusan jiwa dan ratusan korban terluka. Itu terjadi pada Warga Negara Indonesia (WNI) ataupun Warga Negara Asing (WNA).

Thiolina Ferawati Marpaung, adalah salah satu dari sekian ratusan korban yang berada pada saat kasus Bom Bali. Ia korban sekaligus saksi pada kejadian tersebut. Malam pada saat kejadian tersebut, ia melintasi Jalan Legian untuk menikmati indahnya pulau dewata. Tidak disangka pada waktu itu, bom meledak sebanyak tiga kali di dekatnya. Peristiwa itu menjadi kenangan pahit dalam hidupnya.

Hingga sampai 20 tahun lebih peristiwa tersebut terjadi, ia masih trauma dengan bunyi sirine, keramaian, bau rumah sakit, kumpulan orang-orang, dan kemacetan. Trauma ini bukan sekedar sebuah dampak yang ditimbulkan akibat suatu peristiwa. Akan tetapi, ia akan mempengaruhi cara berpikir emosi pada seseorang, khususnya perempuan, yang dapat menganggu perasaan panik, cemas, serta persepsi negatif. Gangguan semacam ini perlu penanganan khusus untuk sembuh agar bisa menjalankan kehidupan dengan baik.

Selain Bom Bali, kasus Bom di Wonocolo Surabaya pada tahun 2018, juga masih membekas pada ingatan para korban. Erna Wahyuni, yang berada di tempat kejadian bom berlangsung, mengaku bahwa sampai saat ini, merasa ketakutan apabila mendengar bunyi sirine, bunyi ledakan, karena teringat peristiwa bom yang pernah terjadi. Pada saat itu, ia tiba-tiba turut tercengang ketika terjadi peledakan di area keramaian Rusunawa.

Trauma dan Proses Sembuh Para Korban
Seperti yang kita ketahui bahwa, korban bom adalah bukan korban yang dipilih oleh peledak bom. Mereka secara acak dan bisa jadi, kemungkinan yang bisa terjadi adalah, kita bisa menjadi korban peledakan bom, apabila berada di suatu tempat, di mana sebuah bom ledakan. Peristiwa ledakan bom ini, bagi orang masih hidup dan menjadi korban dari ledakan, akan menyebabkan trauma.

Trauma pada umumnya sangat sulit disembuhkan karena ini merupakan luka batin yang menghancurkan rasa aman, nyaman serta harga diri. Penyebab trauma itu sendiri, ada beberapa faktor, di antaranya: pertama, faktor internal yang disebabkan oleh ketidaksanggupan seseorang mengatasi hidup yang dijalani. Penyebab ini bisa terjadi karena rendah diri, konflik sosial budaya seperti perbedaan norma dan lingkungannya, hingga pemahaman yang salah. Kedua, faktor ekstenal yang bisa terjadi akibat kejadian di luar dirinya, seperti penganiaan atau luka yang membekas.

Berkenaan dengan trauma yang dialami oleh para korban peledakan bom, ini berarti trauma yang dialami berdasarkan faktor eksternal. Luka batin yang dialami oleh korban, bisa diwujudkan dengan tingkat laku yang tidak semestinya atau tidak normal seperti kebanyakan orang. Shock dan penolakan yang dilakukan oleh para korban apabila trauma terhadap sesuatu, merupakan reaksi jangka pendek yang ditampilkan. Tidak hanya itu, hubungan menjadi tegang dan gejala fisik lain seperti mual dan pusing.

Berbagai reaksi fisik semacam ini, merupakan hal umrah yang ditampilkan oleh para korban yang memiliki trauma. Makanya tidak salah, ketika mengatakan bahwa, proses sembuh seseorang dari trauma, adalah proses yang sangat panjang, bahkan membutuhkan waktu seumur hidup untuk berdamai dengan trauma itu sendiri. Usaha untuk berdamai dan menemukan diri kembali, adalah kesadaran yang perlu dimiliki oleh para korban. Hal ini juga perlu didukung dengan lingkungan yang suportif untk mendukung kesembuhan para korban.

TERBARU

Konten Terkait