26.7 C
Jakarta
Senin, 15 April 2024

Penanaman Nilai Toleransi Berbasis Keluarga, Bagaimana Caranya?

Beberapa waktu lalu muncul di beranda media sosial saya tentang trend memasukkan anak ke sekolah Kristen/Katolik. Kebetulan ketika itu saya melihat sebuah video singkat yang diunggah sebuah akun tik-tok. Dalam video tersebut saya menyaksikan si pemilik akun memberikan testimoni bagaimana dia memasukkan anaknya ke sekolah Katolik padahal dia sendiri beragama Islam.

Fasilitas yang bagus dari segi sistem dan kualitas, adalah satu dari sekian alasan yang menurut saya itu sudah menjadi rahasia umum. Namun, dari beberapa alasan yang dikemukakan, ada satu alasan yang menggelitik batin saya. Si pemilik akun mengatakan bahwa dia ingin mengajarkan anaknya tentang nilai toleransi. Menurutnya, ketika anaknya menjadi siswa di sekolah Katolik, maka anak tersebut akan menjadi minoritas karena agamanya yang Islam.

Dengan begitu, si anak akan memahami bagaimana rasanya menjadi minoritas dan akan lebih menghargai orang lain. Apalagi sekolah Katolik tersebut menerima murid dari agama apapun. Keterbukaan dan inklusifitas inilah yang menurutnya penting untuk mengajarkan anak tentang keberagaman dan juga toleransi.

Saya yang beragama Islam sebenarnya mengamini pendapat tersebut. Saya banyak mendengar cerita senada dari orang-orang sekitar saya. Kebetulan ibu kandung saya juga dulunya dari jenjang TK sampai SMP disekolahkan di sekolah Katolik. Saya yang seorang ibu dan mempunyai anak usia sekolah juga sempat terpikir untuk memasukkan anak ke sekolah Katolik dengan alasan yang sama, mendapat fasilitas bagus dan yang terpenting agar anak mendapatkan nilai-nilai keberagaman dan toleransi yang lebih real.

Namun, pada praktiknya ternyata saya agak ngeri-ngeri sedap memasukkan anak ke sekolah Katolik/Kristen. Saya masih was-was dan takut anak saya tidak mendapatkan ilmu agama Islam yang cukup, belum lagi dengan anggapan dan nyinyiran orang-orang nantinya. Saya sependapat bahwa pemilihan sekolah memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan anak. Namun, menurut saya pilihan sekolah itu sifatnya sangat subjektif, dan pastinya disesuaikan dengan keadaan keluarga yang bersangkutan.

Ada kalanya permasalahan biaya, jarak sekolah, kemampuan anak atau masalah lainnya menjadi pertimbangan. Lantas bagaimana ya caranya kita sebagai orang tua menanamkan nilai-nilai toleransi pada anak sejak dini terlepas di manapun sekolah anak? Apa yang bisa orangtua ajarkan kepada anak sebagai dasar pemahamannya tentang toleransi? Setidaknya ada lima cara yang saya terapkan kepada anak saya dalam rangka menanamkan nilai toleransi kepada mereka.

Pertama, ajarkan anak untuk tidak menilai orang dari perbedaan, tetapi melihat dari cara seseorang bersikap dan memperlakukan orang lain. Hal ini bisa dilakukan dengan cara membebaskan Anak untuk bermain dengan siapa saja tanpa memandang ras, agama, warna kulit, ataupun materi. Dengan melihat banyaknya perbedaan dan keberagaman, pada akhirnya anak akan belajar untuk bertoleransi.

Kedua, ajarkan bahwa dunia penuh dengan keberagaman. Bagaimana caranya? bisa dengan mengajaknya wisata edukasi seperti ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang sudah seperti miniatur keberagaman Indonesia. Kenalkan anak tentang budaya lain yang berbeda. Atau bisa juga dengan membawanya pergi mengunjungi rumah ibadah agama lain dengan kedok jalan-jalan. Di rumah ibadah tersebut mereka pasti menemukan aktivitas yang tidak biasa dilihat olehnya yng memunculkan rasa penasarannya.

Di saat itulah kita sebagai orang tua menjelaskan bahwa agama di dunia ini tidak hanya yang kita anut saja, ada beberapa agama lain yang harus kita akui eksistensinya dan kita hormati penganutnya. Bahwa mana yang paling benar itu sifatnya sangat subjektif. Dengan demikian anak akan mengerti bahwa merasa paling benar adalah sebuah sikap yang keliru.

Ketiga. hindari perdebatan dan pembicaraan yang buruk di depan anak. Terkadang, ketika kita berdebat dengan pasangan, secara tidak sengaja terlontar perkataan yang buruk tentang agama atau budaya yang berbeda. Ketika ini terjadi, Sebisa mungkin kita menghindari itu terjadi di depan anak. Penting juga untuk menghindarkan mereka dari tontonan yang penuh dengan ujaran kebencian. Hal ini sangat penting agar dia tidak tumbuh menjadi orang dewasa yang pembenci, penghasut dan sedang mengolok-olok orang lain.

Keempat, ajarkan rasa empati. Ini sangat dasar tetapi sangat penting. Selalu edukasi anak untuk berbuat baik kepada siapa pun. Bahwa pengalaman yang dirasakan setiap orang itu valid untuk mereka dan kita harus berempati terhadap pengalaman yang dirasakan orang tersebut. Meskipun mungkin kita tidak merasakan hal yang sama. Pada intinya ajarkan pada anak bahwa menilai seseorang itu dari perilaku dan kepribadian yang baik, bukan semata karena agama atau budaya yang berbeda.

Kelima, memberikan contoh sikap yang toleran. Ada yang bilang bahwa anak usia dini itu seperti sponge yang dengan cepat menyerap semua yang dia dengar, dia lihat dan dia rasakan. Anak adalah peniru ulung. Dengan demikian, kita sebagai orangtua harus memberikan contoh langsung kepada mereka bagaimana bersikap toleran kepada orang lain yang berbeda. Biarkan mereka melihat bagaimana kita tersenyum, berinteraksi dan menjalin hubungan baik dengan orang lain yang berbeda. Semakin sering kita melakukan itu di depan anak, semakin mereka melihat dan mengerti bahwa toleransi itu damai dan indah. Nilai itu akan terus terpatri pada diri mereka karena kita sendiri sebagai orangtuanya yang menjadi role model bagi mereka.

Penanaman nilai-nilai multikulturalisme dan toleransi pada anak usia dini berbasis keluarga tersebut memiliki relevansi dan pengaruh yang sangat signigikan dalam mencegah radikalisme. Sikap intoleransi seperti merasa paling benar dan menganggap orang lain yang berbeda salah, mempunyai kecenderungan mengarah pada ideologi yang radikal. Inilah yang harus dicegah.

Beberapa cara yang saya sebutkan tadi adalah pengalaman pribadi saya sebagai seorang ibu. Mungkin terlihat sepele dan remeh namun saya yakin cara tersebut cukup memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan karakter anak. Walaupun tentu juga harus dibantu dengan dukungan berbagai pihak. Karena sejatinya, Pertumbuhan dan perkembangan anak-anak berawal dari keluarga yang berlanjut di sekolah dan Masyarakat.

Orangtua, baik ayah dan ibu memiliki tanggungjawab dalam membentuk karakter anak dengan nilai-nilai universal tersebut. Ketika orangtua telah memberikan bekal dan menjadi role model bagi anak, maka selanjutnya sekolah juga harus mengembangkan nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh keluarga anak didik tersebut. Pemerintah juga mempunyai peran penting tidak hanya mengawasi tenaga pendidik yang intoleransi dan radikalisme terhadap anak didik. Namun, juga menyediakan berbagai program yang memungkinkan bagi anak didik untuk mendapatkan pengetahuan dan wawasan tentang pentingnya menghargai perbedaan. Begitu juga dengan menghargai keberagaman dan nilai-nilai multikulturalisme lainnya.

TERBARU

Konten Terkait