32.1 C
Jakarta
Jumat, 24 Mei 2024

Mengulas Agama dalam Film Tin dan Tina

Apakah anda pecinta film yang membahas hubungan dengan agama. Film Tin dan Tina nampaknya perlu menjadi menjadi salah satu pilihan film yang wajib ditonton. Dikisahkan bahwa ada dua pasangan, yaitu Adolfo dan Lola, yang sedang mengalami krisis iman, bahkan menjadi anti agama setelah mengalami keguguran tragis. Pasangan yang baru menikah ini sangat menginginkan anak. Namun, setelah keguguran yang dialami oleh Lola, dokter mendiagnosis bahwa Lola mustahil untuk memiliki keturunan.

Berdasarkan kesepakatan bersama, akhirnya Lola dan Adolfo pergi ke sebuah biara untuk mengasuh anak. Ia bertemu dengan dua anak, laki-laki dan perempuan dengan kemampuan luar biasa. Tin dan Tina. Adalah dua anak yang memiliki pengetahuan agama sangat ketat dan memahami ayat-ayat agama secara mendalam. Keduanya juga bisa tergolong sebagai orang yang terobsesi kepada agama. Kondisi ini menyebabkan Adolfo dan Lola sangat khawatir.

Hari-hari mereka, terutama Lola begitu menakutkan. Seluruh sudut rumah dipasangi salib. Kamar yang ditempati oleh Tin dan Tina pun, tidak luput dari salib dan alkitab yang menjadi sumber utama kehidupan mereka. Mereka juga tidak segan untuk memberikan komentar dan mengkritik apabila Lola tidak sesuai dengan ajaran-ajaran agama yang diperoleh oleh Tin dan Tina selama di Vihara, atau tidak sesuai dengan firman alkitab.

Kejadian-kejadian Aneh yang Membuat Lola Depresi
Lola, yang semenjak keguguran mengalami krisis agama, bahkan tidak percaya lagi kepada agama, merasa sangat terganggu dengan kehadiran Tin dan Tina. Meskipun demikian, ia tetap menjalankan kehidupannya sebagaimana layaknya seorang ibu. Karena Adolfo sendiri seorang pilot, yang setiap hari tidak ada di rumah, maka Lola adalah orang yang sangat sering bersama keduanya.

Semenjak Tin dan Tina tinggal di rumahnya, ia sempat membuat gaduh dengan berbagai games yang dilakukan. Pertama, games yang dibuat untuk bertemu Tuhan dengan cara menyekap sang ibu. Sontak, perilaku untuk membuat Lola merasa sangat ketakutan. Kuki, seekor anjing yang dirawat oleh Lola dan Adolfo, seolah-olah tidak terima dengan perbuatan Tin dan Tina, namun dihalangi oleh Lola. Akan tetapi justru Lola yang digigit oleh Kuki.

Kedua, membunuh Kuki. Mengetahui kejadian yang menimpa ibunya, Tin dan Tina tidak diterima dengan perbuatan Kuki, lalu mencoba untuk memberikan makanan agar anjing tersebut bisa tidur. Sayangnya, Kuki bukanlah tidur akan tetapi mati. Disinilah Lola merasa semakin tidak suka dengan Tin dan Tina.

Ketiga, terlibat dalam pembunuhan salah satu temannya di sekolah. Tin dan Tina adalah albino. Keduanya sering disebut sebagai drakula kecil oleh salah satu temannya. Pada suatu dalam sebuah perayaan natal, temannya terus mengejek Tin dan Tina. Tidak tahu apa yang dilakukan oleh kedua anak tersebut, namun teman yang sering membully datang dalam kondisi yang mengenaskan dikarenakan jatuh. Lola ditelpon oleh ibu dari anak tersebut dengan menuduh bahwa Tin dan Tina sudah membunuh anaknya. Kejadian ini semakin membuat Lola merasa ketakutan dengan pemahaman agama yang dimiliki oleh Tin dan Tina.

Keempat, membaptis adik kecil dengan cara menenggelamkannya. Fase kehidupan selanjutnya dengan kabar baik yang dialami oleh Lola dan Adolfo adalah mendapatkan keajaiban dikaruniai seorang anak. Setelah lahir, Tin dan Tina menyayangi adik kecil tersebut selayaknya adik kandungnya. Pada suatu hari, ia membaptis bayi tersebut dengan cara menenggelamkannya di kolam. Tin dan Tina melakukan perbuatan tersebut sesuai dengan ajaran alkitab. Kejadian ini benar-benar membuat Lola dan Adolfo marah hingga memulangkan Tin dan Tina ke Vihara.

Pasca memulangkan Tin dan Tina ke Vihara, kehidupan Adolfo dan Lola berubah dan menjadi berantakan. Lola mengajukan berpisah dengan Adolfo. Pertengkaran pun dimulai. Pada suatu malam, Adolfo mencoba untuk memperbaiki antenna TV, namun sayang ia disambar petir dan akhirnya meninggal. Lola yang mengetahui kejadian tersebut, merasa sangat terpukul. Apalagi di waktu yang sama, ia kehilangan bayinya. Pada waktu itulah, Lola berdoa dan memohon kembali kepada Tuhannya untuk menemukan sang anak. Keajaiban itu yang membuat Lola percaya kepada Tuhan.

Film ini berlatar belakang Spanyol pada abad ke-18 di mana teknologi, media tidak semasif hari ini. Film ini memberikan pelajaran penting tentang bagaimana kepercayaan seseorang terhadapa agama, keyakinan orthodox dan obsesi anak-anak terhadap agama. Ini juga tidak lepas dari bagaimana cara Vihara dalam menyampaikan ajaran agama yang tekstual dan sangat ketat.

TERBARU

Konten Terkait