26.7 C
Jakarta
Senin, 15 April 2024

Konflik Etnis, Perempuan, dan Ekstremisme di India

Di akhir bulan Juli ini, situasi sosial politik India sedang memanas. Hal tersebut ditandai dengan munculnya sebuah video yang menunjukkan tindakan bengis dari sekelompok laki-laki di Manipur yang menelanjangi dan memerkosa dua orang perempuan di India. Tak berhenti sampai di situ, setelah mereka melepas baju dua perempuan tak berdaya tadi. Perempuan tersebut yang ketakutan tersebut justru kemudian dibunuh dengan kejam.

Dampak Konflik Antar Etnis
Video berdurasi 26 detik itu terjadi pada 4 Mei 2023 di Manipur, sebuah negara bagian terpencil di timur laut India. Kejadian tersebut, dipicu oleh kerusuhan antaretnis yang melibatkan dua suku mayoritas di daerah tersebut. Yakni, suku Meitei yang mayoritasnya beragama Hindu dan suku Kuki-Zo yang mayoritasnya beragama Kristen. Konflik dipicu oleh tuntutan pengakuan suku Kuki-Zo dari suku Meitei.

Kerusuhan antaretnis di Manipur telah berlangsung sejak awal Mei 2023, dan hingga saat ini. Diperkirakan lebih dari 140 orang telah meninggal dan sekitar 60.000 orang telah mengungsi akibat kekacauan ini. Meskipun rekaman video sudah diambil dari bulan Mei, namun video itu baru-baru ini menjadi viral di media sosial. Yang menyedihkan, kerusuhan antaretnis di Manipur sendiri sudah berlangsung sejak awal insiden terjadi.

Kejadian mengerikan ini menggambarkan betapa kompleksnya situasi di daerah tersebut. Serta menggambarkan bagaimana konflik antaretnis dapat menyebabkan penderitaan dan kehilangan nyawa yang tak terhitung jumlahnya. Seminggu setelah video mengerikan itu viral, ketegangan masih tetap tinggi di negara bagian tersebut.

Di mana lebih dari 130 orang telah tewas sejak kekerasan dimulai pada awal Mei. Sementara itu, ribuan demonstran, sebagian besar wanita, telah menuntut Biren Singh, pejabat terpilih tertinggi Manipur dan anggota partai nasionalis Hindu, untuk mundur. Serta bisa mengambil tindakan diambil terhadap para pelaku kejahatan.

Perempuan Terus Menjadi Korban
Kasus di Manipur tadi hanya gambaran kecil betapa menderitanya perempuan di India. Banyak perempuan menjadi korban perkosaan di India karena berbagai faktor yang kompleks dan terkait dengan masalah sosial, budaya, dan hukum. Salah satu penyebab utamanya adalah patriarki yang kuat yang masih melandasi masyarakat India.

Patriarki mengakar dalam struktur sosial dan memberikan kekuasaan yang dominan kepada laki-laki. Sementara, perempuan seringkali dipersepsikan sebagai objek atau milik laki-laki. Pandangan ini dapat menyebabkan ketidaksetaraan gender yang meresap dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk perlakuan terhadap perempuan.

Permasalahan sistem hukum dan penegakan hukum yang lemah juga menjadi faktor yang mempengaruhi banyaknya kasus perkosaan di India. Lambannya proses hukum dan rendahnya tingkat keberhasilan dalam mengadili pelaku kekerasan seksual dapat menciptakan rasa ketidakpercayaan dan ketakutan bagi para korban. Sehingg, banyak kasus tidak dilaporkan atau tidak dibawa ke pengadilan.

Selain itu, adanya stigma sosial terhadap korban perkosaan juga dapat menyebabkan tekanan bagi mereka untuk tidak melaporkan kasus dan menghadapi lebih banyak tekanan. Pada kasus di Manipur, keluarga korban sejatinya telah melaporkan kejadian pemerkosaan kepada kepolisian setempat. Namun, apa daya, alih-alih ditindaklanjuti, tindakan bengis tersebut malah dibiarkan begitu saja. Laporan kriminal dari warga suku Kuki ditolak untuk diinvestigasi lebih lanjut.

Ekstremisme Politik dan Kultur Kekerasan terhadap Perempuan
Dalam konteks kasus pemerkosaan di Manipur, kelompok ekstremis yang memiliki afiliasi dengan pandangan politik tertentu. Justru, mencoba memanfaatkan situasi untuk menciptakan ketidakstabilan dan mencapai tujuan mereka. Pada awalnya, marak beredar berita palsu dan propaganda kebencian yang menyenggol afiliasi politik, agama, dan suku. Akibatnya, sejumlah warga yang gegabah, memanfaatkan hal tersebut untuk kemudian menculik dan memerkosa perempuan dari etnis yang berbeda.

Pemerkosaan perempuan dari suku lain mereka anggap bukan suatu kejahatan. Justru, mereka memandangnya sebagai strategi untuk menimbulkan kerugian atau kehancuran psikologis bagi kelompok lawan. Kelompok-kelompok ekstremis tadi memanfaatkan kondisi ini untuk melancarkan serangan terhadap perempuan dari kelompok etnis atau agama lain sebagai bentuk balas dendam atau intimidasi.

Peristiwa tragis pemerkosaan terhadap perempuan di Manipur menjadi contoh nyata dampak destruktif dari pandangan ekstremisme yang berbahaya. Tindakan kekerasan semacam ini bukan hanya menciderai korban. Baik secara fisik dan psikologis, tetapi juga mencerminkan kebobrokan moral dan kemanusiaan dari para pelaku yang terlibat.

Secara tidak langsung, kejadian tersebut mengingatkan kita juga tentang urgensi untuk menangani akar permasalahan ekstremisme. Terutama, terkait dengan agama, etnis, atau politik. Sebab, jika akarnya tidak diberangus, efek dominonya (lagi-lagi) akan kian menyengsarakan kelompok perempuan.

TERBARU

Konten Terkait