26.1 C
Jakarta
Senin, 15 April 2024

Bagaimana Buruh Migran di Korea Selatan Terpapar Radikalisme?

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan terus menunjukkan perkembangan signifikan. Berbagai kerjasama terus dijalankan utamanya yang berkaitan dengan sosial budaya. Program kerjasama sosial dan budaya antara Indonesia dan Korea Selatan yang diimplementasikan merupakan cerminan komitmen bersama untuk mempererat hubungan, meningkatkan pemahaman saling, dan mempromosikan dialog antarbudaya. Dengan merangkul dan merayakan keragaman budaya mereka, kedua negara terus membangun jembatan dan menjalin hubungan yang berarti yang berkontribusi pada hubungan yang harmonis dan sejahtera.

Meski kini hubungan Indonesia dan Korea Selatan berjalan mulus, namun kedua negara sempat dihadapkan permasalahan radikalisme yang menimpa buruh migran Indonesia di negeri gingseng pada beberapa tahun silam. Walau warga Indonesia di sana tidak tertangkap melakukan aksi terror, namun hasil penyelidikan dari otoritas Korea Selatan mengungkapkan bahwa sejumlah buruh migran di Indonesia mengalami proses radikalisme yang cukup ekstrim saat bekerja di wilayah Asia Timur tersebut.

Hasil penelitian sementara melaporkan bahwa mereka yang terpapar radikalisme menunjukkan perubahan sikap dan perilaku yang cukup ekstrem dalam beberapa tahun terakhir. Studi etnografi yang dilakukan terhadap sejumlah buruh migran Indonesia menunjukkan bahwa warga yang terafiliasi dengan kelompok radikal menerima propaganda radikalisme melalui internet. Mereka menghadapi tekanan yang cukup berat di negara asing.

Perasaan sebagai minoritas yang terkoneksi dengan gegar budaya kemudian mendorong perasaan terkucil atau teralienasi. Hal tersebut mengakibatkan timbulnya perasaan benci terhadap pihak asing, dalam hal ini tidak sebatas Korea Selatan, tetapi juga bangsa barat. Ditambah dengan budaya Asia Timur yang kurang ‘akrab’ dengan nilai-nilai agama. Selain itu, tekanan budaya baru di Korea Selatan, membuat buruh migran akhirnya mencari ‘kambing hitam’ terhadap permasalahan personal dan polemik yang sekarang sedang mereka hadapi.

Melihat dinamika yang dihadapi oleh para buruh migran, sebenarnya terdapat sejumlah upaya yang telah dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat, komunitas warga Indonesia, dan perwakilan pemerintah Indonesia di sana. Salah satunya adalah dengan menggelar forum silaturahmi dan pelatihan Bahasa Korea untuk memudahkan para migran lebih mudah beradaptasi dengan negara baru. Sayangnya, tidak banyak migran yang memanfaatkan kesempatan-kesempatan tadi.

Dibandingkan dengan pelatihan, mereka jauh lebih tertarik untuk mengikuti acara makan dan kumpul-kumpul bersama. Sedangkan untuk belajar Bahasa Korea Selatan, nampaknya bukan hal yang mereka anggap prioritas. Bagaimana tidak, di sana mereka harus membanting tulang untuk kerja kasar di pabrik-pabrik. Sesampainya di rumah, mereka sudah terlalu Lelah untuk memutar otak dan belajar kosakata baru.
Belum lagi, sebagian besar mereka hanyalah lulusan sekolah menengah atau pun berpendidikan setingkat diploma. Hal itu mengakibatkan kemampuan akademik mereka jauh lebih terbatas. Yang pada akhirnya, mereka semakin teralienasi budaya Korea dan membuat mereka kiang mengasingkan diri.Perasaan terasing dan eksklusif ini semakin menjadi.

Apalagi, ketika dalam beberapa kesempatan majelis taklim di sana mengundang penceramah dengan pandangan radikal yang hanya melihat Korea Selatan dalam satu-dua kali kunjungan. Alih-alih menekankan toleransi dan memupuk dakwah cinta kasih, penceramah-penceramah ini dalam sejumlah kesempatan malah menyampaikan pesan-pesan ekstremisme. Terutama, dari sudut pandang agama yang bertentangan dengan budaya umum Korea Selatan.

Hal inilah yang kemudian menciptakan peluang radikalisasi internal di kalangan buruh migran Indonesia di Korea Selatan. Mereka yang jauh dari rumah kian ‘dijauhkan’ karena menerima tekanan dari berbagai sudut. Mulai dari tidak hanya dari sisi pekerjaan, tapi juga relasi sosial. Akibatnya, pencarian ketenangan jiwa mereka di perantauan terkotori oleh propaganda kebencian dan eksklusivisme yang disebarkan oleh pihak luar. Di mana tidak betul-betul memahami kondisi mereka seutuhnya.

Ditambah lagi, kurang ketatnya pengawasan buruh migran asing di Korea Selatan. Hal itu kian membuka peluang radikalisme internal yang menerpa para buruh migran. Apalagi jika problem radikalisme ini tidak ditanggapi serius. Bukan tidak mungkin para generasi buruh migran bisa bertindak sembrono dengan menciptakan terror demi melampiaskan kefrustasian mereka.

Bahkan ada yang memprediksi bahwa dampak radikalisme memang tidak terjadi sekarang. Namun, bisa saja terjadi di decade mendatang ketika para generasi penerus buruh migran mengambil alih komunitas. Sebab, keturunan para migran yang terpapar radikalisme kini masih berusia remaja. Sehingga, aksi mereka diperkirakan baru dapat dieksekusi dalam tahun-tahun mendatang.

TERBARU

Konten Terkait