32.1 C
Jakarta
Jumat, 24 Mei 2024

WGWC, Rahima dan YPP Gelar Peningkatan Kapasitas Kontra Narasi Ekstremisme Bagi Petugas Pemasyarakatan

Ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme merupakan problem yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam beberapa temuan, kelompok ekstrimis teroris ini ketika ada di dalam lapas, mereka masih aktif menyebarkan ideologinya kepada para petugas lapas. Karena itu, pendidikan serta penyadaran perlu ditingkatkan agar pencegahan terorisme menyentuh ranah yang lebih substantif, baik kepada narapidana teroris maupun kepada para petugas lapas.

Untuk itu, WGWC, Rahima dan Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP) gelar training peningkatan kapasitas terkait kontra narasi ekstremisme kekerasan kepada para petugas pemasyarakatan, Selasa (6 Juni 2023). Sebelumnya, telah membuat buku saku terkait kontra narasi ekstremisme berkekerasan yang diperuntukkan bagi petugas lapas dampingan anggota WGWC.

Menurut Direktur Rahima, penguatan kapasitas ini dilakukan agar para petugas pemasyarakatan bisa melakukan kontra-narasi. Biasanya, para napiter menggunakan ayat Al-quran dan hadir. Akan tetapi, kita perlu memahami ayat Alquran maupun hadis sesuai dengan misi utamanya sebagai rahmatan lil alamin alquran.

”Dalam al-qur’an mengatakan wama anzalna rahmatan lil alamin tidak akan engkau memutus wahai Muhammad bagi seluruh alam bagi siapa saja. Bahkan sebagai seluruh binatang hewan dan seluruh alam itu adalah Islam sebagai rahmatnya,” terangnya.

Dalam teks tersebut, Alqur’an dan hadist mempunyai dua sisi mata uang. Bisa digunakan untuk berperang dan membunuh. Di saat yang bersamaan, bisa digunakan untuk tergantung siapa bagaimana kita membaca pada teks itu. Narasi yang digunakan napiter tentang Jihad ini berbeda dengan al-quran. Jihad bisa dimaknai menahan dan melawan hawa nafsu ini adalah jihad yang paling besar. Jihad yang terbaik adalah jihad untuk diri sendiri.

”Beberapa narasi sudah ada dalam buku dan sudah dibahas. Dalam buku sudah dilengkapi dan sudah bisa dipergunakan bagi para petugas pemasyakatan,” terangnya.

Di tempat yang sama, Direktur Pendampingan dan Peneliti YPP, Khariroh Maknunah menerangkan narasi ini diterangkan agar petugas pemasyarakatan memiliki imunitas atau resiliensi ketika menghadapi narasi-narasi dari para napiter. ”Kami memulai memberikan imunitas kepada para petugas kemasyarakatan ini melalui peningkatan kapasitas dengan materi mengidentifikasi tipe-tipe ideologi yang diterima oleh napiter,” ungkapnya.

Dijelaskan olehnya, para petugas pemasyakatan melakukan identifikasi dan jaringan kelompoknya. Serta disambungkan dengan identifikasi narasi utama yang sering muncul dan digunakan berdialog dengan para petugas kemasyarakatan.

TERBARU

Konten Terkait