26.4 C
Jakarta
Jumat, 14 Juni 2024

Sosialisasi Pengalaman Eks Napiter, Mengapa Penting?

Ada yang menarik dari pagelaran Kenduri Perdamaian di Kampung Percik, Salatiga 28 Maret 2023 lalu. Selain menghadirkan gubernur Jawa Tengah, acara ini juga menghadirkan Joko Tri Harmanto, seorang eks napiter dan pelaku bom bali 1. Mengapa menarik? Karena di sinilah mandat utama RAN PE direalisasikan, yaitu pelibatan dan kolaborasi berbagai pihak, termasuk para napiter dan eks napiter.

Fyi, Kenduri perdamaian ini digelar dalam rangka sosialisasi Pergub Nomor 35 Tahun 2022 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Ekstrimisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme sebagai tindak lanjut dari RAN PE. Kehadiran Joko Tri Harmanto sebagai eks napiter memberikan testimoni nyata dan perspektif baru dalam konteks pencegahan radkalisme dan ekstrimisme.

Dalam acara tersebut mas jack, begitu sapaan akrabnya, bercerita awal mula dirinya tertapar radikalisme, sampai akhirnya terlibat langsung dalam operasi bom bali. Ketika SMP, hatinya tergerak saat melihat umat muslim di Bosnia terzolimi. Seorang remaja yang notabene sedang mencari jati diri ini kemudian semakin terdoktrin dengan idealisme yang radikal ketika SMA, yang berujung pada pembaiatan dirinya di kelas 2 SMA. Ketika kuliah di UNS di semester awal dia bergabung dengan NII di Solo, sampai akhirnya tergabung dengan kelompok Dul Matin dan terlibat aksi Bom Bali 1.

Pada saat itu menurutnya, apa saja yang dikatakan gurunya atau murobbinya, harus mereka lakukan. Mas jack bercerita, ketika itu ada satu kewajiban yaitu menginfakkan harta setiap bulan sebesar 10 persen untuk gerakan. Mereka yang masih remaja dan belum mendapat penghasilan, hanya bermodal uang saku bahkan rela mencuri untuk memenuhi 10 persen tersebut. Hal ini menunjukkan sebegitu kuatnya doktrin yang dilakukan para kelompok-kelompok radikal kepada para anak dan para remaja yang sedang mencari jati diri tersebut.

Ketika ditanya apa yang membuat mas jack sampai akhirnya memutuskan untuk bertobat? Mas Jack mengatakan semua itu karena ibunya. Dia ingat betul ketika polisi menangkapnya dengan ratusan peluru dn bahan peledak tersimpan di rumahnya di Kulon Progo, ibunya syok dan menangis. Mas Jack tidak pernah melupakan momen tersebut yang menjadi titik balik dalam hidupnya. Dia pun akhirnya memutuskan untuk bertobat dan koperatif dalam penyidikan sehingga dia divonis 6 tahun dan menjalani kurungan 4,5 tahun, selebihnya masa percobaan.

Saat ini, Mas Jack sudah kembali ke masyarakat dan mempunyai Yayasan yang Bernama Gema Assalam. Yayasan ini diprakarsai oleh pak Rudi, mantan walikota Solo. Yayasan ini bekerja sama dengan Kesbangpol Jateng dan DIY mengadakan sosialisasi kemasyarakatan dan juga dunia Pendidikan baik SMP, SMA maupun perguruan Tinggi tentang pengalaman eks napiter mulai dari mereka terpapar, sampai menjalani hukuman dan kembali ke bumi pertiwi.

Dari cerita mas Jack ini kitab bisa berefleksi bahwa penting sekali untuk menghadirkan para napiter dan eks napiter dalam kerja-kerja PVE (Preventing Violent Ekstrimism). Mengapa? Karena pengalaman mereka adalah original dan memperkaya perspektif kita dalam konteks pencegahan ekstrimisme berbasis kekerasan ini. Setidaknya ada beberapa pembelajaran yang bisa diambil dari cerita mas Jack tersebut, yaitu:

Pertama, Pentingnya peran orang tua dan peran guru dalam membersamai Pendidikan anak. Sebagaimana kita tahu keluarga adalah komunitas masyarakat di level terkecil. Maka keluarga, khususnya orang tua mempunyai peranan yang sangat besar sebagai benteng utama yang melindungi anak-anak dari bahaya gerakan radikalisme. Kontrol dan kepekaan orang tua terhadap aktivitas anak menjadi kunci utama.

Kedua, tentang peningkatan skill literasi. Kemajuan teknologi, termasuk di dalamnya internet dan media sosial memberikan dampak positif di satu sisi, namun juga dampak buruk di sisi lain. Positifnya, kita bisa mengakses berbagai informasi dengan sangat mudah, namun negatifnya jika tidak dibarengi dengan skill literasi yang baik, maka kita tidak bisa mefilter mana informasi yang benar dan mana informasi yang hoak.

Inilah yang menjadi kerentanan para remaja yang notabene sedang mencari jati diri
Atas dasar inilah maka edukasi tentang pentingnya memilih guru sangat diperlukan. Kelompok-kelompok radikal menyasar anak muda dengan memanfaatkan internet dan media sosial. Maka kita perlu mengimbanginya dengan kontra narasi dan narasi alternatif agar internet tidak dikuasai narasi-narasi yang radikal.

Sosialisasi tentang pengalaman eks napiter juga mengajak kita berefleksi dan berfikir ulang bahwa kita semua bertanggung jawab terhadap para napiter. Bahwa mereka juga adalah bagian dari Indonesia yang sedang “tersesat”. Mereka perlu kita bantu dan kita dukung untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Cerita dan pengalamannya akan sangat bermanfaat sekali sebagai evaluasi dan pembelajaran untuk kita dalam menentukan Langkah-langkah preventif dalam pencegahan radikalisme dan ekstrimisme berbasis kekerasan.

TERBARU

Konten Terkait