28.3 C
Jakarta
Senin, 24 Juni 2024

Menyoal Bendera HTI dan ISIS: Kalimat Tauhid yang Disalahgunakan

Masih segar di ingatan kita tentang kasus pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid yang pada saat itu menuai polemik. Kejadian tersebut terjadi tepatnya pada peringatan hari santri nasional tahun 2018 lalu. Peristiwa pembakaran bendera terjadi di alun-alun Limbangan, Garut dan dilakukan oleh beberapa anggotan BANSER yang mengamankan jalannya acara.

Menurut pelaku, tindakan pembakaran tersebut adalah tindakan spontan karena melihat ada atribut HTI di peringatan hari santri. Sebagai anggota Banser mereka merasa perlu untuk memberantas segala bentuk dan juga atribut dari organisasi radikal yang sudah dibubarkan pemerintah tersebut. Walaupun ketiga anggota tersebut sudah meminta maaf, namun masih banyak pihak yang tidak menerima karena pelaku dinilai menghina kalimat tauhid.

Apalagi, dari pihak HTI sendiri mengatakan bahwa organisasinya tidak memiliki bendera organisasi. Bendera dan panji yang mereka miliki adalah Liwa dan Raya nya Rasulullah. Jadi yang dibakar bukan bendera HTI, melainkan bendera Tauhid. Mereka mengklaim bahwa Pembakaran terhadap bendera tersebut berarti juga mengingkari kalimat tauhid dan panji-panji Rasulullah. Tentu hal ini menimbulkan kebingungan bagi masyarakat awam. Benarkah klaim dari HTI tersebut?

Penjelasan Hadist Soal Bendera Rasulullah
El Bukhari Institute dalam sebuah penelitiannya yang dituangkan dalam buku “Meluruskan Pemahaman Hadist kaum Jihadis” menemukan bahwa hadist tentang bendera Rasul terdapat dalam beberapa kitab, diantaranya Mu’jamul Awsath karya At-Thabarani dan Akhlaqun Nabi wa Adabuhu karya Abu Syeikh al-Ashbihani. Hadist tersebut berbunyi:
“Bendera Pasukan Rasulullah itu hitam dan panjinya itu putih yang bertuliskan di atasnya Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah,” (HR.Ath Thabarani)

Menurut penelitian tersebut, secara umum kualitas hadist tersebut baik yang diriwayatkan At-Thabarani maupun Abu Syeikh berkualitas lemah atau dhaif. Hadist tersebut juga menjadi salah satu dari sekian banyak hadits dhaif dalam kitab Al-Kamil fi Dhu’afa’ir Rijal. Hal senada juga diungkapkan Nadirsyah Husein dalam bukunya yang berjudul “Islam Yes, Khilafah No” (Jilid 2). Menurut Gus Nadir, hadist yang diriwayatkan Thabrani tersebut statusnya lemah karena dalam sanadnya ada seorang rawi yang dianggap pembohong yaitu Ahmad bin Risydin. Bahkan menurut beberapa ulama dia adalah pemalsu hadist.

Adapun Riwayat Abu Syeikh berasal dari dua jalur, yaitu dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas. Riwayat yang bersumber dari Abu Hurairah itu dhaif karena ada ada rawi Muhammad Ibnu Humaid dalam silsilah sanadnya. Sebagian besar ulama hadist berpendapat bahwa Humaid adalah munkar. Sedangkan Riwayat Abu Syeikh yang berasal dari Ibnu Abbas menurut Ibnu Hajar dihukumi hasan dan tidak sampai pada tingkatan shahih karena sanadnya lemah sekali. Hal ini tertuang dalam kitabnya Fathul Bari.

Riwayat tentang bendera Rasul memang banyak sekali, Riwayatnya pun berbeda-beda. Ada yang mengatakan warna bendera hitam saja, ada yang putih saja. Ada juga yang mengatakan warnanya hitam dan putih, bahkan ada juga yang mengatakan merah dan juga kuning. Begitu pula terkait Tulisan. Ada yang mengatakan bendera itu tidak ada tulisan dan ada juga yang mengatakan ada tulisan tauhidnya. Pada intinya hadist- hadist yang menjelaskan tentang warna dan tulisan bendera rasul ada banyak dengan Riwayat yang berbeda. para ulama juga sudah memberikan penilaian terhadap hadist tersebut yang secara umum tidak berkualitas shahih.

Sejarah Bendera Islam
Jika menilik konteks hadist, Rasul menggunakana bendera dan panji sewaktu perang untuk membedakan pasukan Rasul dengan musuh, selain sebagai simbol komando dalam perang. Bukan dipakai sebagai bendera negara ataupun simbol Islam. Tidak pernah ditemukan catatan valid bendera ini dikibarkan di rumah Rasululullah atau di masjid. Dalam sejarah Islam juga kita menemukan fakta bahwa para khalifah penerus nabi tidak mengguakan bendera tersebut sebagai simbol negara. Dinasti Umayah dan Abasiyah juga tidak menggunakan bendera liwa dan raya. Ada yang mengatakan dinasti Umayah menggunakan bendera hijau, dinasti Abbasiyah memakai hitam dan pernah juga berwarna putih.

Merujuk pada fakta sejarah tersebut, bendera bukanlah merupakan bagian dari syariat. Nyatanya bendera sudah ada sebelum kedatangan Islam dan juga digunakan oleh semua pasukan perang baik muslim maupun nonmuslim. Dalam pandangan Ibnu Khaldun, memperbanyak bendera, memberi warna dan memanjangkannya hanya semata-mata untuk menakuti musuh dan kepentingan politik suatu pemerintah. Artinya, tidak ada aturan yang baku terkait soal bendera ini. Tidak ada perintah Rasulullah untuk kita menngangkat bendera semacam itu, tidak ada kesepakatan mengenai warna maupun tulisannya dan juga tidak ada kesepakatan dalam praktik khilafah zaman dulu.

Walaupun Rasulullah menggunakan bendera jenis tertentu, bukan berarti model tersebut mesti diikuti oleh setiap umat Islam dan setiap negara. Yang tidak mengikuti kemudian dikatakan tidak mengikuti syariat dan sunnah nabi. Ini jelas salah kaprah. Karena yang namanya sunnah ada yang Tasyri’dan ada yang Ghairu Tasyri’. Sunnah menjadi Tasyri’ (menjadi syariat) jika konteks Rasul saat itu sedang mempraktikkan amalan syariat yang hanya dilakukan umat Islam dan tidak dilakukan umat selain Islam. Ghoiru Tasyri’ (tidak menjadi syariat) jika konteksnya Rasul mempraktikkan kapasitasnya sebagai manusia biasa atau sedang mempraktikkan budaya yang juga dilakukan oleh umat selain Islam. Bendera merupakan sunnah yang Ghoiru Tasyri’, artinya dia bukan syariat yang wajib diikuti.

Simbol Gerakan, Bukan Simbol Islam
Dengan demikian, bendera HTI maupun ISIS bukanlah bendera Islam. Mereka menyalahgunakan kalimat Tauhid untuk memanipulasi umat muslim. Membawa-bawa nama Tuhan dan agama demi kepentingan politiknya. Jika memang bendera bertuliskan kalimat tauhid itu adalah simbol Islam mengapa antara bendera HTI dan ISIS berbeda penulisannya? Walaupun sama-sama bertuliskan kalimat tauhid, mengapa HTI tidak mau mengangkat bendera ISIS, begitupun sebaliknya. Bagaimana dengan bendera Arab Saudi yang juga ada kalimat tauhidnya?

Jawabannya jelas saja. Bendera adalah ciri khas perangkat dan simbol negara, komunitas dan juga suatu Gerakan. Jadi, bendera ISIS ataupun bendera HTI bukanlah bendera Islam, bukan bender Tauhid, bukan bendera Rasul, tetapi bendera Gerakan mereka. Simbol dari HTI dan ISIS. Jangan ragu untuk menurunkannya.

TERBARU

Konten Terkait