32.1 C
Jakarta
Jumat, 24 Mei 2024

Semangat Sumpah Pemuda Kuatkan Peran Pemuda dalam Pencegahan Radikalisme Beragama

Pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda Nusantara yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, dan budaya bersumpah menjadi Indonesia yang satu tanah air, satu bangsa dan satu Bahasa. Peristiwa bersejarah tersebut terbukti mampu meyatukan visi kebangsaan dan meneguhkan spirit untuk meraih kemerdekaan.

Nampaknya, Quote terkenal dari Bung karno yang berbunyi “Beri aku seribu orangtua niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncang dunia”, bukan hanya isapan jempol belaka. Pemuda adalah salah satu elemen sosial yang sangat penting dalam suatu masyarakat. Keberadaan dan perannya mampu memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan sosial.

Pemuda dengan integritas yang kuat, menjunjung tinggi nilai-nilai moderasi dan perdamaian tentu akan memberikan pengaruh terhadap kemajuan bangsa. Sejarah mencatat bahwa rangkaian peristiwa pergerakan dan perjalanan politik bangsa Indonesia tidak luput dari peran kaum muda yang menjadi bagian terpenting dalam perjalanan tersebut. Mereka terlibat baik secara evolusioner maupun revolusioner. Mulai dari Budi Utomo, peristiwa Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan sampai pergantian rezim orde baru ke reformasi di tahun 1998.

Mereka menjadi peran kunci dari terjadinya peristiwa besar yang mengubah arah dan dinamika sejarah. Maka tak heran jika banyak sosiolog yang mengatakan bahwa pemuda adalah agent of social change atau agen perubahan.

Namun, ibarat dua sisi mata uang, potensi yang ada selalu bersandingan dengan resiko dan tantangan. Fenomena di lapangan saat ini memperlihatkan bahwa pemuda menjadi salah satu sasaran empuk penyebaran sikap intoleran, ekslusif dan keras. Sikap tersebut jika dibiarkan akan mengarah pada radikalisme dan ekstrimisme yang mangancam keutuhan NKRI. Hal tersebut juga akan menjauhkan pemuda dari semangat sumpah pemuda yang sarat akan nilai-nilai persaudaraan, persatuan dan welas asih.

Kemajuan internet yang sangat pesat memungkinkan semua orang mengakses berbagai informasi. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh beberapa kelompok radikal untuk meyebarkan pahamnya kepada anak muda. Anak muda yang sedang mencari jati diri akan menjadi target empuk karena dinilai lebih mudah terpengaruh ataupun terprovokasi.

Karena itu radikalisme dalam dunia maya semakin menjadi ancaman nyata. Bayangkan, akses tentang Pendidikan dan paham radikal, cara dan tips menyiapkan aksi teror hingga layanan jual beli senjata dapat diakses dengan cukup mudah di internet. Sebut saja Agus Wiguna, Pembuat bom panci di bandung tahun 2017, mengaku mendapatkan ide radikal dan juga cara perakitan senjata melalui internet. Pemuda asal Garut tersebut mengakses konten yang disebarkan kelompok radikal yaitu jaringan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).

Melihat besarnya ancaman penyebaran radikalisme di kalangan pemuda, maka perlu pelibatan aktif para pemuda untuk memberantas penyebaran paham tersebut. Karena itu, peringatan hari sumpah pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober harusnya tidak dimaknai sekedar selebrasi dan peringatan saja. Refleksi dan pemaknaan spirit sumpah pemuda harus terus menyala dan berkobar dalam diri setiap pemuda.
Dalam hal ini menurut saya ada beberapa hal yang bisa dilakukan para pemuda untuk membentengi minimal dirinya sendiri dari paham-paham radikalisme, yaitu:

1. Memiliki Pemahaman yang Utuh dan Kaya Perspektif
Abu Laits Al-Samarqandi dalam Kitab Tanbihu Ghafilin mengatakan bahwa ada empat hal yang dibutuhkan manusia agar selamat. Salah satunya adalah berilmu sebelum memulai amal, karena amal tidak sah tanpa ilmu. Dalam konteks agama, beragama tanpa ilmu berpotensi merusak segalanya. Karena bisa jadi dia menyangka benar apa yang sebenarnya salah fatal, dan menduga sebuah perbuatan adalah ibadah padahal sama sekali bukan.
Ilmu dan pengetahuan agama yang sempit akan melahirkan sikap radikal dan intoleran. Hal ini disebabkan karena dia beranggapan bahwa kebenaran hanyalah apa yang dia pahami dan dia ketahui. Jika diteruskan, akan muncul sikap keras terhadap kelompok yang tidak sepaham, mengkafir-kafirkan bahkan penyerangan dengan alasan agama. Karena itu perlu sekali untuk menggali pengetahuan seluas-luasnya. Pengetahuan dan pemahaman yang kaya perspektif akan membawa pemuda pada sikap yang lebih terbuka pada berbagai pandangan yang berbeda.

2. Selektif Memilih Guru
Agama butuh sanad, sebagaimana ilmu butuh referensi. Dalam Muqoddimah Shahih Bukhari tertulis: “Agama itu Ilmu, Ilmu itu agama. Maka lihatlah ilmu itu kamu ambil darimana”. Dengan demikina, jika kita ingin memiliki ilmu agama yang benar maka hendaklah berguru pada ulama dan kyai yang mempunyai otoritas keagamaan dan sanad keilmuan yang jelas.
Akan berbahaya sekali jika para pemuda belajar agama hanya dari internet, menonton youtube atau mendengarkan podcast saja. Justru Ini akan menjadi celah penyebaran paham-paham radikal oleh kelompok radikal. Pemuda perlu dibimbing oleh guru yang jelas dan mempunyai sanad. Karena dari sosok tersebutlah ilmu akan bermuara pada ketentraman hati dan kejernihan akal fikiran, bukan saling menyalahkan.

3. Bersikap Terbuka, Inklusif dan Bergaul dengan Banyak Orang
Dengan memiliki Pengetahuan dan wawasan yang luas serta guru yang memiliki otoritas, maka ke depannya para pemuda akan lebih mudah untuk bersikap terbuka. Dirinya akan tergerak untuk bergaul dengan banyak orang demi memperkaya perspektif dan pengetahuannya. Sebaliknya, pemuda yang tertutup dan bersikap ekslusif cenderung lebih mudah terpengaruh terhadap segala bentuk ajaran radikal. Karena itu, penting untuk para pemuda menjalin hubungan baik dan positif dengan orang orang sekitar.Kamu pemuda Indonesia? Yuk lanjutkan semangat sumpah pemuda dengan turut ambil peran dan berkontribusi aktif menjaga keutuhan bangsa. Say No to Radicalism. NKRI Harga Mati!

TERBARU

Konten Terkait