27.3 C
Jakarta
Jumat, 14 Juni 2024

Perbedaan HTI dan ISIS, Bagaimana Bahayanya terhadap Kedaulatan NKRI?

Salah satu tantangan besar dalam pergolakan arus pemikiran Islam yang selama ini menjadi pertentangan yakni munculnya organisasi-organisasi yang menjadi wadah dan penguatan ideologi bagi para kader untuk memperkuat ideolgi itu sendiri. fanatisme terhadai ajaran Islam yang terlembagakan dalam sebuah organisasi, berwujud pada pemberantasan nilai kebangsaan dan keindonesiaan. Hal ini menjadi tantangan kebangsaan yang cukup lama sejak kemerdekaan Indonesia. Wujud dari organisasi tersebut bisa dilihat HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dan ISIS (Islamic State of Iraq). Keduanya adalah dua organisasi yang menjadi kewaspadaan bagi bangsa Indonesia. Mereka memiliki persamaan keagamaan yang monolitik dalam konsep negara yaitu negara Islam.

Kesamaan lain yang terdapat pada dua organisai tersebut memaknai totalitas dalam berislam bertolak ukur menegakkan khilafah Islamiyah di seluruh dunia. Meskipun sulit untuk mengaitkan HTI dan organisasi teroris, akan tetapi kemiripan keduanya tidak bisa terelakan dalam mengusung ide Islam dan gagasan khilafah Islamiyah sebagai pijakan mereka dalam seluruh aspek gerakannya. Dalam upaya mencapai tujuan besarnya, ISIS dan HTI memiliki perbedaan yang cukup besar. Jika ISIS mengandalkan bom bunuh diri sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan visi besarnya, sedangkan HTI justru memiliki stratei ciamik non kekerasan yang bisa menjadi salah satu privilege bagi organisasi tersebut untuk menarik minat masyarakat.

HTI merupakan organisasi transnasional yang sewaktu-waktu bisa saja pola dalam gerakannya berubah akibat dari pergeseran paradigma politik. Dalam sejarahnya, HTI lahir dari angin demokratisasi di dunia Islam yang memberikan ruang bagi mereka untuk menegakkan gagasan Khilafah Islamiyah-nya, tetapi dalam hal ini merupakan sebuah demokrasi versi kaum Islamis. Artinya demokrasi yang dibajak secara prosedural, substansinya dikosongkan. Kekosongan ini yang kemudian rentan dan berpotensi pengambil alihan kekuasaan oleh gerakan kombatan seperti ISIS.

Ibarat manusia, ISIS seperti perampok yang dalam gerakannya ditakuti oleh semua orang karena akan membunuh dan menghilangkan nyawa orang lain. Sedangkan HTI, seperti penjilat yang baik di hadapan semua orang, tidak pernah melukai fisik, akan tetapi berbahaya bagi kedaulatan sebuah negara. Meskipun menjelma sebagai organisasi yang sangar, mengapa ISIS banyak digemari dan mendapatkan respon cukup baik dari masyarakat, khususnya di Indonesia?

Di Indonesia, penyebaran ISIS cukup massif karena ada beberapa tokoh yang berpengaruh besar terhadap penyebaran ISIS seperti Abu Bakar Baasyir (ABB), Oman Aburddurrahman dan Santoso. Secara personal, sosok ABB adalah tokoh yang memiliki basis massa pesantren, dimana posisinya sebagai kiai, menjadi salah satu privilege untuk menyebarkan ajaran dakwahnya dalam memperkuat basis massa organisasi teroris yang didirikan di Indonesia.

Gerakan-gerakan di Indonesia yang terinspirasi dari ISIS cukup banyak, seperti: Mujahidin Indonesia Timur, Jmaah Ansharut Tauhid, Jamaah Islamiyah, Forum Aktivis Syariat Islam, Awhid wa Jihad, Forum Pendukung Daulah, Asybal Tauhid Indonesia, dll. kekuatan basis organisasi tersebut akan memperkuat kaderisasi teroris di Indonesia. Tidak hanya itu, basis ideologi yang digunakan oleh para teroris adalah ayat-ayat Tuhan sebagai landasan dalam melakukan gerakan.

Tidak heran, meskipun semua orang memahami bahwa, pijakan para teroris sangat tidak masuk akal, akan tetapi menggunakan ayat Tuhan sebagai alasan yang kuat, akan memantik orang lain untuk bergabung menjadi kombatan serta melakukan jihad di jalan Allah. Doktrin yang digunakan berikan kepada para orang yang demam terhadap agama, akan berbanding lurus terhadap loyalitas yang diberikan. Dari sinilah menjadi alasan kuat, mengapa para teroris masih sangat diminati oleh masyarakat beragama, khususnya para orang-orang yang baru belajar tentang agama ataupun kepada orang-orang yang pandai tafsir agama.

Posisi HTI tidak kalah bahayanya dengan ISIS. HTI memang sama sekali tidak memiliki pola gerakan seperti ISIS, akan tetapi pola gerakannnya berkamuflase. Semenjak HTI dibubarkan oleh pemerintah, mereka menjelma dengan berbagai hal dan melakukan upaya-upaya licik untuk mewujudkan visi besarnya. Narasi yang digaungkan oleh mereka adalah kebencian kepada pemerintah dengan alasan korupsi, bencana, hingga minimnya kesejahteraan. Dari sinilah kita memahami bahwa, pola gerakan antara ISIS dan HTI jauh sangat berbeda. Keduanya memiliki visi yang sama, yakni mendirikan negara Islam, dan berbahaya bagi kedaulatan NKRI.

TERBARU

Konten Terkait