26.4 C
Jakarta
Jumat, 14 Juni 2024

Bagaimana Mengkampanyekan Narasi Anti-Radikalisme secara Efektif?

Tren radikalisme dari tahun ke tahun masih saja mengancam keamanan banyak negara di dunia. Meski sudah banyak kebijakan dan strategi yang dilakukan oleh banyak pihak dari pemerintah hingga LSM, namun nyatanya kelompok-kelompok radikal terus mengembangkan strategi mereka secara masif. Mereka bahkan tidak ragu memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan konten-konten propaganda kebencian mereka.Untuk melawan narasi-narasi negatif yang beredar, kita tidak bisa secara gegabah langsung menyebarkan konten yang isinya berlawanan. Perlu adanya langkah-langkah taktis dengan beberapa pertimbangan agar kampanye pembandingnya pun mendapatkan dampak optimal.

Strategi kampanye narasi kontra ekstremisme, menurut Priyank Mathur, CEO dari Mythos Labs (organisasi yang kinerjanya berfokus pada isu-isu kontra radikalisme) harus dilakukan secara bertahap. Bahkan kalau perlu riset awal bisa dilakukan terlebih dulu sebelum memulai membuat kontennya. Secara garis besar, menurut Priyank langkah pembuatan konten anti radikalisme dimulai dari 3 tahap yaitu: define, design, dan deliver.

Tahap awal define memfokuskan pada bagaimana kita perlu mendefinisikan apa yang kita buat, narasi dan pesan apa yang ingin disampaikan. Ada dua jenis konten, yaitu counter-narrative (narasi yang secara langsung/tidak langsung tidak menyetujui konten radikalisme) atau alternative-narrative (narasi yang berisi alternatif opini yang tidak secara langsung melawan propaganda ekstremisme). Pilih salah satu jenis tadi untuk kemudian kita fokuskan produksinya. Selanjutnya, tentukan target audiens yang ingin kita jangkau. Pastikan rentang usia sasaran, gender-nya, hingga lingkup wilayah yang ingin dituju.

Jika semua faktor-faktor dari langkah design sudah dirancang. Langkah berikutnya adalah design atau mendesain kampanye yang ingin dibuat: apa inti pesannya? Bagaimana gaya penyampaiannya? Pihak mana saja yang ingin diajak berkolaborasi?

Berkaitan dengan pesan, pesan yang harus disampaikan harus jelas dan tidak bertele-tele. Namun di saat yang sama juga harus menarik agar orang-orang memiliki minat terhadap kampanye yang dibuat. Durasi penyampaian pesan juga perlu singkat, tapi mampu mengikat emosi dan simpati dari audiens. Apalagi kelompok teroris berusaha mengeksploitasi perbedaan budaya untuk mempromosikan ketidakharmonisan dan kekerasan di lingkungan masyarakat.

Pada komunitas masyarakat multikultural, mereka bahkan tidak ragu untuk menyebarkan jargon-jargon provokatif untuk memecah belah persatuan publik. Contohnya saja, perekrutan ISIS ternyata menekankan pada individu-individu yang mengalami marjinalisasi sosial, yang kemudian situasi tersebut dijadikan peluang untuk melakukan proses radikalisasi lebih mendalam. Yang menarik, mereka juga menawarkan solusi praktis untuk menjadikan target mereka menjadi loyalis dan simpatisan.

Untuk gaya penyampaian, ada 3 aspek yang harus diperhitungkan yaitu nada komunikasi, durasi, dan format. Seluruh aspek ini perlu disesuaikan dengan target audiens yang sudah ditentukan dari awal. Sebisa mungkin kita juga perlu melihat tren konten yang viral dan menarik perhatian publik. Dari situ, kemudian kita bisa mengikuti pola mereka: kira-kira bagaimana mereka menyampaikan narasi yang dibuat? Format konten bagaimana yang dapat menarik engagement tinggi? Dan terakhir, format mana yang paling efektif untuk dapat menjangkau audiens sebanyak-banyaknya.

Dalam memenuhi aspek tersebut, hanya mengandalkan pihak internal pemerintah atau LSM saja tidak cukup. Penting untuk menggaet pihak yang tingkat popularitas tinggi dan pesannya punya pengaruh cukup signifikan kepada masyarakat. Untuk memilih influencer ini pun tidak bisa sembarangan. Kita perlu mempertimbangkan sebarapa besar audiens yang ia miliki dan seluas apa pengaruhnya kepada publik selama ini. Selain itu, jika ada pihak yang pernah memiliki pengalaman atau rekan/kolega yang berkaitan dengan radikalisme, tentu akan sangat membantu untuk menguatkan impact-nya.

Langkah terakhir yakni delivery the campaign menekankan pada bagaimana konten disampaikan secara efektif. Yang perlu ditentukan kemudian adalah platform media apa yang akan digunakan: Tiktok? YouTube atau Instagram? Selanjutnya apakah mau disiarkan secara organik atau dipromosikan dengan berbayar? Bila semua sudah diterapkan dan konten juga tuntas disiarkan, kita lalu perlu mengecek engagement-nya.

Apakah betul-betul sudah efektif menjangkau banyak audiens? Jika sudah, bisa disimpulkan bahwa kampanye anti radikalisme yang diluncurkan memang berdampak dan efektif menangkal narasi ekstremisme di jagat digital. Meski langkah lainnya juga perlu dilakukan untuk memperkuat strategi anti ekstremisme yang sudah ada.

TERBARU

Konten Terkait