26.4 C
Jakarta
Jumat, 14 Juni 2024

Menangkal Radikalisme Dimulai Dari Pembelajaran Sejarah yang Tepat, Kok Bisa?

Menurut Kuntowidjoyo, orang tidak akan belajar sejarah jika tidak ada manfaatnya. Kenyataan bahwa sejarah terus ditulis orang disemua peradaban dan disepanjang waktu, sebenarnya cukup menjadi bukti bahwa sejarah itu perlu. Maka penting untuk diketahui bagaimana metode pembelajaran sejarah yang tepat, sebagai upaya menangkal radikalisme di Indonesia.

Untuk menjawab hal diatas, kurikulum pendidikan sejarah yang ditulis oleh Hamid Hasan berikut ini layak untuk diadopsi dalam pembelajaran Sejarah Peradaban Islam. Adapun tekhnik pembelajaran sejarah yang tepat untuk menangkal radikalisme adalah sebagai berikut ini:

Pendekatan Perenialisme dalam Sejarah dan Contohnya

Parenialisme memandang bahwa pendidikan sejarah sebagai wahana “transmission of culture”. Pengajaran sejarah hendaklah diajarkan sebagai pengetahuan yang dapat membawa mahasiswa kepada penghargaan yang tinggi terhadap “the glorius past”.

Dalam konteks sejarah peradaban islam, mahasiswa dengan latar belakang pendidikan apapun hendaknya memahami tentang pencapaian apa yang telah didapatkan oleh Musliam, baik capaian di bidang sosial, ilmu pengetahuan, pemerintahan dan dalam bidang apapun.

Selama proses pengkajian sejarah tentunya akan ada banyak kebiasaan-kebiasaan masa lalu yang sangat mungkin di replika di masa sekarang. Maka disinilah akan terjadi “transmission of culture” atau transmisi budaya. Contohnya, ketika kita mengkaji mengenai peradaban di masa Bani Abbasiyah. Tentu kita akan membahas beberapa hal antara lain:

Bagaimana keadaan masyarakat di masa itu?
Bagaimana khalifah memerintah sehingga mampu membawa Islam mencapai peradaban yang mendunia? Bagaimana konteks perekonomian dinasty Abbasiyah sehingga masyarakatnya hidup dengan standar ekonomi yang tinggi?

Segala hal tentang Dinasty Abbasiyah dikaji, dianalisis, kemudian menarik kemungkinan-kemungkinan yang bisa diterapkan di masa kini. Sehingga muncul kebanggaan dalam diri mahasiswa tentang pencapai-pencapain di masa lalu atau “the glorius past”.

Namun, jangan sampai “the glorius past” yang menjadi tujuan pembelajaran sejarah peradaban Islam ini membuai mahasiswa sehingga terjebak pada romantisisme sejarah. Perasaan bangga ini jangan sampai membawa mahasiswa pada tahap bangga saja, namun juga harus muncul komitmen untuk mempertahankan hal yang baik dan melanjutkan perjuangan yang ada.

Romantisisme yang berlebihan dapat menjadikan mahasiswa berjalan di angan-angan, memunculkan rasa sombong, dan tidak melihat bagaimana fakta yang terjadi saat ini. Rasa “the glorius past” ini harus menjadi pemicu mahasiswa untuk meraih kembali kejayaan yang pernah dicapai di masa lalu, dengan cara yang sesuai dengan masa sekarang.

Jika kejayaan masa lalu diraih dengan perang, penakhkukan, dan perebutan wilayah, sedangkan cara-cara tersebut tidak mungkin untuk kita tiru saat ini karena tatanan dunia telah berubah. Maka kita kontektualisasikan dengan masa sekarang, yaitu meraih kejayaan dengan menguasai keimuwannya. Karena penguasa beradaban di abad 21 ini bukan lagi dengan mengangkat pedang, namun dengan menguasi keimuwan, dan tekhnologinya.

Pendekatan Esensialisme dalam sejarah dan contohnya

Dalam pandangan esensialisme, mahasiswa yang belajar sejarah harus diasah kemampuan intelektualnya sesuai dengan tradisi intelektual sejarah sebagai disiplin ilmu. Kemampuan intelektual keilmuan antara lain menghendaki kemampuan berfikir kritis dan analitis terutama dikaitkan dalam konteks berfikir yang didasarkan pada filsafat keilmuan.

Sebagai contoh, ketika mahasiswa mempelajari sejarah tentang penaklukan Andalusia tentunya akan dikaji mengenai proses peperangannya, bagaimana proses penakhlukannya, bagaimana kondisi masyarakat Andalusia pasca penakhlukan hingga proses terusirnya muslim dari Andalusia.
Maka mahasiswa harus mampu melakukan analisis yang komprehensif berdasarkan fenomena yang ada secara kritis dengan mendalami sebab-sebab terdalam seperti:

Kenapa Andalusia harus ditakhlukan?
Kenapa harus dengan senjata? Apakah tidak ada langkah lain selain dengan kekerasan?
Kenapa muslim terusir dari Andalusia, padahal sudah banyak tinggalan peradaban yang diwariskan oleh muslim di Andalusia?
Bagaimana proses transmisi budaya yang dibawa Islam sehingga mampu mengeluarkan Eropa dari dark age?
Kenapa saat ini muslim menjadi penduduk minoritas di Eropa, padahal penah menguasai selama 5 abad?

Analisis kritis diatas dijabarkan secara teoritis dan mendasar. Merasionalisasi fenomena yang ada dan menyajikan suatu pandangan yang sistematik dan lengkap. Melakukan penyelidikan kritis, mampu menganalisis fakta yang terjadi. Sehingga dalam mempelajari sejarah peradaban Islam, mahasiswa tidak hanya disuguhi fakta, namun juga harus mampu melahirkan nalar yang kritis.

Pendekatan Rekonstruksi sosial dalam sejarah dan contohnya

Pandangan ini menganggap bahwa pendidikan sejarah haruslah diarahkan pada kajian yang menyangkut kehidupan masa kini dengan problema masa kini. Pengetahuan sejarah diharapkan dapat membantu mahasiswa memecahkan permasalahan kekinian. Kecenderungan-kecenderungan yang terjadi dalam sejarah masa lampau digunakan sebagai pelajaran yang dapat dimanfaatkan bagi kehidupan mahasiswa masa kini.

Sebagai contoh, permasalahan yang terjadi saat ini seperti radikalisme dalam beragama sehingga memunculkan aksi terorisme dan memecah belah persatuan umat manusia. Peristiwa sejarah yang mirip dengan aksi radikalisme adalah kejadian pembunuhan khalifah Ali Ra oleh Ibnu Muljam. Kemudian kita lakukan analisis terhadap fakta tersebut. bagaimana kecenderungan yang saat itu terjadi, bagaimana mengatasinya pada masa itu?

Ibnu Muljam sebenarnya adalah sosok pendukung khalifah Ali bin Abi Thalib. Sikap politiknya yang berbeda ketika terjadi perang Shiffin yang mengawali ketidakberpihakannya. Berawal dari Perang Shiffin, perang antara pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah pada tahun 37 H/ 648 M.
Ketika kelompok Ali hampir menang, Muawiyah menawarkan perundingan (tahkim) sebagai penyelesaian permusuhan. Ali menerima tawaran Muawiyah, sehingga menyebabkan 4000 pengikutnya memisahkan diri dan membentuk kelompok baru yang dikenal Khawarij (berasal dari kata kharaja artinya keluar/membelot) termasuk di dalamnya adalah Ibnu Muljam.

Khawarij menyatakan bahwa permusuhan harus diselesaikan dengan kehendak Tuhan, bukan perundingan (arbitrase). Mereka berpegang teguh dengan dalil “lā hukma illa Allah” (tidak ada hukum yang harus ditaati kecuali hukum Allah) yang digunakan untuk menolak kebijakan Ali. Karena melawan kehendak Tuhan, Khawarij kemudian mengkafirkan (takfir) kepada Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah.

Keyakinan Ibnu Muljam inilah yang mendasarinya untuk menikam dada khalifah Ali Ra seusai sholat Subuh. Ibnu Muljam meyakini bahwa yang ia lakukan adalah menegakkan syariat Islam. Maka belajar dari peritiwa pembunuhan oleh Ibnu Muljam kepada khalifah Ali ini hendaknya umat Islam perlu selalu waspada, dikarenakan radikalisme adalah kejahatan luar biasa yang merugikan berbagai pihak. Jangan sampai menjadi korban keganasan sejarah yang terulang, yang bisa jadi adalah generasi baru Ibnu Muljam.

Generasi neo-khawarij yang militan berbekal pemahaman agama tekstual dan tampilan yang syari’, namun dengan mudah membid’ahkan atau mengkafirkan orang-orang di luar dirinya. Bermodalkan teks Al-Quran dan Hadits, vonis sesat dan kafir begitu mudah terlontar dari mulut mereka, dan mengatasnamakan kekerasan sebagai jihad dan penegakan syariat Islam.

TERBARU

Konten Terkait