26.4 C
Jakarta
Jumat, 14 Juni 2024

Gerakan Hijrah dan Hausnya Pengetahuan Agama Anak Muda

Saya masih ingat dalam acara pra KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia) di UIN Semarang, Senin lalu (8 Agustus 2022). Salah satu pembahasan yang sangat penting untuk dikaji adalah ekstremisme yang terjadi pada anak muda. Melalui pembahasan itu, saya diingatkan tentang gerakan hijrah yag cukup familiar sekali bagi anak muda.

Berdasarkan hasil dari launching penelitian PPIM (Pusat Pengkajian Islam dan masyarakat) pada tahun 2021, menunjukkan bahwa trend gerakan hijrah pada anak muda, khususnya di media sosial, sangat aktif dan banyak diminati oleh anak muda. Melalui penelitian itu, ada beberapa gerakan hijrah yang diteliti, diantaranya: Pemuda Hijrah Shift, Kajian Musawarah, Yuk Ngaji, The Strangers Al-Ghuraba.

Kelima akun hijrah tersebut menunjukkan sebuah alur gerakan keagamaan baru yang menjadi kiblat umat muslim urban. Argumen tersebut didasarkan banyaknya followers (red: pengikut) yang terdapat pada 5 akun hijrah di atas. Melihat betapa meningkatnya aktifitas hijrah yang terjadi pada anak muda, ditambahdengan banyaknya anak muda yang tertarik untuk bergabung pada gerakan hijrah kontemporer tersebut, kehadiran keluarga menjadi sangat penting untuk meninjau aktifitas anak dalam beraktifitas di media sosial.

Tidak bisa dipungkiri bahwa, kehadiran media sosial dalam meningkatkan pengetahuan, khususnya pengetahuan agama, menjadi media utama yang digunakan oleh masyarakat. Tidak heran, Tom Nichols dalam bukunya yang berjudul, “The Death Of Expertise (Matinya Kepakaran” menyebut bahwa, kehadiran media sosial, membuat otoritas kini berpindah. Lembaga pendidikan agama, dulu dianggap sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, menempa diri, dan tempat menimba ilmu, kini digantikan oleh media sosial.

Semua ruang belajar, bisa didapatkan dari internet yang secara kredibel, lebih dipercaya oleh penggunanya sebagai ruang untuk belajar. Hal itu juga terjadi pada ruang belajar keagamaan. Dahulu, Lembaga pendidikan agama adalah satu-satunya otoritas utama dalam belajar agama. Namun, hari ini, tokoh agama, justru lebih dipercaya apabila ia memiliki followers banyak khususnya akun media sosialnya centang biru.

Berdasarkan fenomena itu, secara personal, ketika seseorang belajar agama di media sosial, maka mengikuti algoritma media sosial yang banyak dicari orang. Jika akun hijrah banyak dicari oleh orang di media sosial, maka serupa yang direkomendasikan oleh Instagram, twitter, youtube untuk ditonton. Berdasarkan hal itu, maka tidak heran, para pendakwah yang mengusung konsep hijrah, persoalan jodoh, memiliki ruang yang besar untuk digandrungi anak muda.

Kehadiran Felix Shiauw dengan akun dakwah dan akun hijrah, salah satunya akun Instagram @YukNgaji, semakin menguatkan otoritas dirinya sebagai pendakwah yang relate dengan anak muda. Bagaimana dengan pendakwah konservatif, kiai di pondok pesantren yang memahami berbagai kitab, namun tidak memiliki banyak followers bahkan tidak memiliki media sosial? Maka, otoritas pendakwah di era serba cepat, diserta gerak cepat perubahan di era internet, membuat otoritas keagamaan berpindah kepada orang-orang yang sebenarnya tidak kredibel dalam pengetahuan agama.

Namun, memiliki pengaruh besar untuk menggerakkan masa, mengambil isu penting yang dibahas sehingga mampu menghipnotis anak muda. Fenomena ini menjadi kegelisahan KUPI pada forum itu, dengan melihat bahwa, fenomena ini sebagai gerakan hijrah yang cukup masif, kemudian berlanjut pada haluan dan gerakan untuk mengubah negara, fenomena menjadi salah satu tantangan kebangsaan masa kini.

Penguatan keluarga, harus disadari oleh para orang tua sebagai Lembaga pendidikan utama. Selama ini, kehadiran media sosial, menggantikan peran orang tua yang cukup krusial. Padahal, orang tua sampai kapanpun, memiliki peran yang cukup penting untuk mendidik anak dan melihat aktifitas apa saja yang dilakukan di media sosial. Kegelisahan masyarakat ketika anak muda belajar di media sosial, bergabung pada gerakan hijrah masa kini, sangat sulit sekali untuk keluar.

Meneguhkan kembali peran orang tua sebagai Lembaga pendidikan utama bagi anak, menjadi salah satu solusi penting untuk mencegah anak-anak masuk dalam gerbong radikalisme. Hal ini harus disadari oleh para orang tua untuk mengembalikan ruang keluarga sebagai basis anak untuk bercerita, ruang aman, dan berbagi apapun tanpa kehilangan dirinya. melalui penguatan itu, anak-anak tidak kehilangan dirinya sehingga tidak perlu mencari jati diri dengan mengikuti gerakan hijrah kekinian.

TERBARU

Konten Terkait