26.4 C
Jakarta
Jumat, 14 Juni 2024

Anak Muda yang sedang Hijrah: Tidak Perlu Anti Barat

Bagi sebagian orang, khususnya anak muda yang sedang hijrah, kembali ke khittah dan menerapkan agama secara kaffah, adalah sebuah keharusan. Fenomena ini mereka sebut sebagai proses mengembalikan Islam kepada jalan yang benar. Salah satu keyakinan yang mantap dipahami oleh kelompok hijrah, yakni: menolak segala hal yang berhubungan dengan barat.

Ide tentang kapitalisme yang disebut sebagai pemicu hancurnya NKRI dengan melihat banyaknya fenomena yang terjadi di Indonesia, menjadi alasan kuat yang dikampanyekan oleh aktifis hijrah/aktifis khilafah untuk membangkitkan kembali, khilafah di Indonesia. Padahal, di masa silam, negara barat, atau non-muslim, menjadi salah satu faktor kejayaan Islam, seperti apakah itu?

Pada Masa Khilafah, Keberhasilan Kekuasaan Islam Atas Bantuan Non-muslim

Menjadi anak muda yang sedang hijrah, tentunya kita harus memahami, bagaimana sejarah kejayaan Islam di masa silam. Proses untuk menjadi muslim/Muslimah sejati, membaca, memahami sejarah Islam masa silam, menjadi bagian dari proses hijrah yang wajib dilakukan. Menolak ide yang erasal dari barat, bahkan menolak Barat sendiri, kita harus memiliki alasan pribadi yang didasari dengan pengetahuan yang kuat. Sebab di masa silam, kejayaan Islam pada masa khilafah seperti Dinasti Umayyah, Abbasiyah, hingga Ustmani, memiliki hubungan yang kuat dengan orang-orang non-muslim.

Pertama, pada dinasti Ustmani yang dipimpin oleh khalifah Sulaiman, yang diakui sebagai pemimpin yang membawa kerajaan Ustmani ke zaman keemasan. Negara Perancis, yang merupakan negara barat, melakukan tawaran perdamain dalam rangka menguatkan hubungan antar negara. Atas dasar itu, kerajaan Ustmani memiliki kekuatan armada. Perjanjian damai itu juga menjadikan umat Kristen memiliki kebebasan untuk beragama. Di bawah kepemimpinan Sulaiman, kerajaan Ustmani tampil sebagai pemerintahan yang makmur, apalagi dengan penakluikan Konstantinopel, semakin membuat kerjaan Ustmani dikenal oleh bangsa barat.

Kedua, pada masa kegemilangan Abbasiyah, salah satu Lembaga yang dididirkan oleh Bayt al-Hikmah. Lembaga itu merupakan pusat pengetahuan yang dimiliki oleh Abbasiyah, ia berfungsi tidak hanya sebagai perpustakaan, akan tetapi sebagai tempat pertemuan para petinggi abbasiyah, sebagai tempat belajar dan banyak sekali referensi dengan bahasa terjemahan. Adanya Bayt al-Hikmah semakin menguatkan kekuatasan Abbasiyah bagi dunia barat.

Para khalifah di era Abbasiyah, khususnya pada masa Harun Arrasyid, kemudian diteruskan oleh khalifah al-Ma’mun, putera Harun, semua penerjemah didatangkan dan diberi upah yang sangat layak atas kontribusinya itu. Upaya itu yang membuat Bayt al-Hikmah menjadi pusat pengetahuan pada waktu itu. Melalui kegemilangan tersebut, ada beberapa orang yang berperan, yakni para penerjemah, diantaranya: Yahya ibn Masawayh, penerjemah Kristen asal Suriah. Selain itu, ada Hunayn ibn Ishaq, penerjemah Kristen asal Iraq yang menjadi penanggung jawab Bayt al-Hikmah.

Ketiga, kisah Ibnu Rusyd yang pernah diusir oleh para pemimpin, dan ditolong oleh Yahudi. Perlu diketahui bahwa, kejayaan Islam ketika di Andalusia, menjadi babak baru dalam sejarah perkembangan Islam. Banyak tokoh/ilmuwan lahir pada masa itu, salah satunya Ibnu Rusyd. Siapa yang tidak kenal Ibnu Rusyd? Ia dijuluki sebutan Avicenna oleh bangsa Barat. Dalam proses belajarnya, ia pernah mengkritik pemikiran Aristoteles. Kritikan tersebut berupa komentar yang menjadi tulisan.

Dari aktifitas tersebut, kemudian ia diasingkan dan ditolong oleh muridnya, seorang yahudi, yakni: Maimonides. Setelah itu, banyak sekali mahasiswa yang berasal dari non-muslim, seperti yahudi dan Kristen, belajar kepada Ibnu Rusyd. Ketiga kisah di atas, kita bisa belajar bagaimana peran negara Barat, atau tokoh non-muslim terhadap kejayaan Islam pada masa silam. Hubungan umat Islam dengan negara Barat adalah saling menguntungkan satu sama lain.

Bukankah kita hari ini mengambil manfaat dari negara Barat? Baik pengetahuan, informasi dan teknologi, dll. Cerita di atas tidaklah menjadi kesimpulan atas keterlibatan non-muslim pada kejayaan kekuasaan Islam. Banyak sekali peran non-muslim khususnya negara barat terhadap kejayaan kekuasaan Islam di masa silam. Dengan membaca sejarah Islam, kita bisa mengetahui bagaimana arah gerakan hijrah yang akan kita lakukan sebagai anak muda.

Menjadi anak muda yang glowing, disertai dengan pemahaman dan keilmuan, tanpa memberikan stigma kepda yang lain, harus kita upayakan. Jangan sampai pemikiran kita hanya membenarkan satu pihak saja, tanpa mau belajar dan memahami yang lain.

TERBARU

Konten Terkait