32.1 C
Jakarta
Jumat, 24 Mei 2024

Hijrah: Perbaikan Moralitas Atau Branding Economic of Lifestyle?

Maraknya pembahasan mengenai hijrah sejalan dengan semakin berkembangnya penggunaan social media. Berdasarkan laporan detik.com di tahun 2019, hastag hijrah ditemukan sebanyak 1,7 postingan di instagram. Di tahun 2020, hastag serupa ditemukan sebanyak 5,3 juta postingan. Hingga Agustus 2022, hastag hijrah naik 3 kali lipat sebanyak 13,2 juta postingan dan masih mungkin terus bertambah.

Hal ini membuktikan bahwa tren hijrah adalah sebuah gerakan yang masif dan terstruktur serta meningkat seiring dengan menguatnya religius sentimen di masyarakat. Fenomena hijrah sebagai sebuah budaya populer yang menjadikan agama sebagai tren sebenarnya bukan suatu hal baru. Kristen Protestan di tahun 2008 mengeluarkan istilah born-agaim Christian yang memiliki makna hampir sama dengan makna hijrah sebagaimana terjadi di Islam.
Hijrah kenapa Lebih Ngetrend dibanding Taubat?

Makna hijrah pada dasarnya adalah sebuah representasi perubahan secara spiritual. Jika merujuk pada fakta historis, hijrah adalah perpindahan dari satu lokasi (Makkah) ke lokasi lain yang dianggap lebih baik (Madinah) oleh nabi Muhammad SAW dan sahabat di abad ke-6 Masehi. Sedangkan dalam al-Quran, hijrah berarti migrasi, meninggalkan, dan menarik diri.

Mayoritas ulama memaknai hijrah sebagai sebuah perpindahan fisik. Adapun hijrah yang bermakna menarik diri dari segala kemaksiatan untuk menuju kehidupan yang lebih baik adalah makna hijrah bagi para sufi. Sedangkan menurut Kailani dan Sunarwoto, hijrah yang saat ini menjadi tren di Islam maknanya justru lebih dekat dengan konsep born-agaim Christian dalam Kristen Protestan. Karena didalamnya tidak hanya merepresentasikan spiritualitas semata, namun memunculkan kelas sosial baru yang eksklusif dan ingin menampilkan bahwa mereka berbeda dengan kelompok yang “belum” hijrah.

Jika kita menyepakati makna hijrah sebagaimana yang ditujukan untuk para sufi, Islam sebenarnya telah memiliki konsep taubat. Taubat adalah keadaan dimana seseorang menyesal dengan sepenuh hati atas perbuatan maksiat yang pernah dilakukan dengan mengucapkan istighfar. Diiringi dengan janji untuk tidak mengulangi kesalahan serupa dimasa yang akan datang. Seseorang yang bertaubat ditandai dengan semakin baiknya sikap seseorang dalam menjalin relasi dengan manusia lainnya maupun dengan Tuhannya.

Menurut Miftahu Surur, taubat memiliki empat unsur penting yaitu penyesalan dari dosa masa lalu, menghentikan kemaksiatan yang sedang dilakukan, memohon ampunan kepada Allah, dan tekat kuat untuk tidak mengulangi kesalahan di masa yang akan datang. Dalam al-Quran sendiri kata taubat disebutkan sebanyak 87 kali dan selalu dikaitkan dengan subjek manusia. Taubah dan hijrah pada dasarnya memiliki tujuan dan juga makna yang sama. Lantas kenapa tren hijrah yang bahkan tidak disebutkan dalam al-Quran lebih banyak dikenal daripada konsep taubat yang nyata disebutkan dalam al-Quran?

Komodikasi Agama dan Branding Economic of Lifestyle

Pertanyaan mengenai alasan kenapa hijrah lebih dikenal dibanding dengan konsep taubat terjawab melalui penelitian Kirana Nur Lyansari. Ia menyatakan bahwa dalam tren hijrah terdapat branding economic life style. Yaitu keadaan dimana seorang publik figur merubah gaya hidup yang sangat berbeda dari standarisasi dunia hiburan. Kemudian membentuk sebuah otoritas keagamaan baru dan menjadikan hijrah sebagai sebuah alat komodifikasi ekonomi.

Teori ini muncul seiring dengan semakin banyaknya selebritis papan atas di Indonesia yang memutuskan untuk meninggalkan dunia hiburan dengan alasan ingin hijrah dan menjadi pribadi yang lebih beriman. Sebagian dari mereka dengan tegas mengharamkan pekerjaan yang telah bertahun-tahun digeluti. Seperti Andri Ashari vokalis grup band pop Indie Rumah Sakit yang memilih keluar dari bermusik karena hukumnya haram.

Komodikasi ekonomi dibentuk oleh para selebritis yang hijrah ditengah kebingungan mereka akan tuntutan profesi yang berkembang cepat. Bagaimanapun selebritis adalah sebuah profesi yang mengharuskan dirinya menjadi sebuah komoditas. Selebritas harus bersaing dan menyesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan media yang tidak semuanya bisa kuat berada di jalur tersebut.

Maka setelah mereka memutuskan berhijrah, mereka harus membentuk identitas baru apakah akan tetap menjadi selebritis dengan melakukan penyesuaian, menjadi “ustadz seleb” ataukah banting setir menjadi bisnismen baju syari’i sesuai dengan preferensi busana yang dipilih? Berdasarkan analisis diatas, menjadi wajar kiranya jika kata hijrah lebih dikenal dibanding dengan taubat. Karena dalam konsep hijrah, seseorang akan membentuk komoditas ekonomi baru sebagai sumber mata pencaharian setelah seseorang memutuskan berhijrah. Sedangkan dalam konsep taubat, implikasi setelahnya adalah berupa perubahan sikap dan relasi dengan Tuhan dan manusia yang lebih baik.

TERBARU

Konten Terkait