26.4 C
Jakarta
Jumat, 14 Juni 2024

Mencegah Arus Pergerakan Radikalisme Di Lingkungan Pendidikan Tinggi

Ada ungkapan yang paling penting ketika melihat sebuah fenomena sebelum terjadi yakni, mencegah lebih baik daripada memperbaiki. Ungkapan tersebut sangat familiar untuk dipahami oleh kita bahwa, banyak hal yang bisa dilakukan untuk melakukan perubahan agar sesuatu hal tidak baik terjadi, termasuk tentang isu radikalisme di kampus yang semakin lama mengalami peningkatan dan kekhawatiran oleh semua pihak.

Beberapa waktu lalu, kita dikejutkan dengan kehadiran GEMA (gerakan mahasiswa) Pembebasan UIN Jakarta yang secara jelas dan terbuka menyatakan bahwa kehadirannya untuk menegakkan khilafah. Kehadiran GEMA tersebut menjadi PR yang berkelanjutan bagi para civitas akademikbahwa, upaya yang terus dilakukan untuk melawan arus pergerakan radikalisme belum berjalan dengan baik. Justru, kampus harus memiliki strategi yang juga cukup terbuka untuk melawan setiap individu/kelompok yang keukeuh untuk mendirikan negara Islam di Indonesia.Meskipun demikian, kampus dengan keunikan dan kekhasannya, harus memiliki strategi yang berbeda untuk mencegah arus pergerakan raadikalisme.

Strategi pencegahan radikalisme di pendidikan tinggi

Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan dalam mencegah radikalisme di Lembaga pendidikan, diantaranya:
Pertama, memperkuat pendidikan kewarganegaraan (civic education). Salah satu hal yang paling penting dan menjadi mata kuliah wajib secara nasional adalah mata kuliah pendidikan kewarganegeraan. Hal ini karena, pemahaman tentang kebangsaan, nasionalisme, bela negara, menjadi wajib dimiliki oleh bangsa Indonesia. Dalam konteks keislaman, biasanya hal itu mendapatkan penentangan dari para aktifis khilafah. Alasannya justru, cinta tanah air bukanlah bagian dari Iman.

Namun, penentangan tersebut bisa pula dikritik dengan doa yang diucapkan oleh Rasulullah ketika hijrah dari Mekkah ke Madinah. Rosulullah berdoa supaya rasa cintanya kepada Madina, sama seperti Mekkah bahkan kalau bisa melebihi. Para ulama menafsirkan bahwa, kecintaan tersebut menjadi awal dari pemahaman kita untuk menjunjung tinggi negara Indonesia sebagai tempat tinggal dan tempat yang memberi kehidupan.

Kedua, Pendidikan multikultural. Mengapa ini sangat penting? Dalam konteks sosial, kondisi keberagaman yang dimiliki oleh Indonesia merupakan keniscayaan. Apabila dipahami sebagai sebuah kesalahan, maka anggapan merasa paling benar menjadi mayoritas akan menghancurkan keutuhan bangsa dan negara. Pemahaman tentang multikulturalisme penting diberikan kepada mahasiswa, mengingat bahwa, mereka berasal dari banyak kalangan, baik sebagai kalangan heterogen, ataupun masih close mindset dalam melihat perbedaan.

Ketiga, ideologi pemahaman agama yang toleran. Pendidikan agama juga menjadi wajib diberikan kepada mahasiswa, dengan melihat kondisi masyarakat Indonesia yang religius. Argumen tersebut didasari pada banyaknya agama yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Namun, pemberikan pendidikan agama harus sejalan dengan pemahaman yang toleran, menerima perbedaan, menjauhi stigmatisasi atas perbedaan tersebut, sehingga tercipta lingkungan yang inklusif.
Keempat, pendidikan karakter.Segala hal yang diberikan oleh guru ataupun dosen sebagai pengajar, serta keteladan yang diberikan, menjadi sebuah pendidikan karakter yang akan ditiru oleh siswa ataupun mahasiswa. Pendidikan karakter akan membentuk watak serta pendirian seseorang terhadap sesuatu. Maka pendidikan karakter yang membentuk watak seseorang menjadi mandiri, berdikari, teguh terhadap nilai-nilai Pancasila dan seorang nasionalis, sangat penting diberikan oleh dosen pengajar.

Kelima, pelibatan organisasi kemahasiswaan. Keberadaan organisasi intra dan ekstra kampus menjadi salah satu jembatan pemikiran mahasiswa. Artinya, dalam konteks perlawanan terhadap radikalisme, keberadaan organisasi sangat penting dilibatkan untuk melawan pemahaman tersebut. Apabila nantinya, ada yang organisasi radikal yang hadir di sebuah kampus, maka organisasi lain (yang memiliki kesadaran tentang nasionalisme, menjunjung nilai Pancasila) menjadi garda terdepan dalam menjalam strategi supaya mahasiswa tidak terjerumus pada pemahaman itu.

Strategi ini sebenarnya, akan berjalan cukup maksimal manakala semua civitas akademik memiliki kesadaran utuh tentang bahaya radikalisme, serta tidak terpapar radikalisme. Selain itu, strategi pencegahan di atas juga harus menjadi hiddencurriculum (kurikulum tersembunyi) bagi setiap dosen pengajar. Hal ini karena, nilai yang diberikan untuk menguatkan pemahaman mahasiswa terhadap penolakan ajaran radikalisme tidak cukup diberikan satu kali, atau hanya berbentuk mata kuliah 2 SKS yang tidak seberapa. Lebih dari itu, membutuhkan waktu yang cukup panjang agar membentuk pemahaman mahasiswa terhadap radikalisme sehingga strategi di atas harus menjadi hiddencurriculum pada semua civitas akademik untuk membangun kesadaran bahwa, cinta tanah air harus dijunjung tinggi dan menolak segala bentuk ajaran khilafah.

TERBARU

Konten Terkait