26.4 C
Jakarta
Jumat, 14 Juni 2024

Wajah Gelap Ekstremisme Sayap Kanan yang Melibatkan Pihak Militer dan Kepolisian di Jerman

Pada pertengahan Juni lalu, Menteri Dalam Negeri Jerman, Horst Seehofer mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terjadi negara mereka mengalami peningkatan gerakan ekstremisme sayap kanan yang hingga kini terus menjadi ancaman keamanan utama bagi negara Bavaria tersebut. Selain ekstrimisme sayap kanan, anti-Semitisme juga menjadi ancaman utama lainnya di Jerman.

Bahkan sebuah laporan resmi dari agensi pemerintahan di sana menemukan bukti nyata bahwa terdapat lebih dari 300 kasus ekstremisme sayap kanan yang dilaporkan kepada badan keamanan utama Jerman. Laporan itu muncul di tengah peningkatan pengawasan otoritas keamanan Jerman, menyusul sejumlah kejadian bentrok yang melibatkan kelompok radikal sayap kanan dengan petugas polisi dan pihak militer.

Lebih lanjut, otoritas Jerman juga sedang memeriksa 860 kasus mencurigakan yang diduga berlatar belakang sama, dari Juli 2018 hingga Juni 2021. Tindakan investigasi tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi dugaan insiden ekstremisme sayap kanan yang tidak mengakui otoritas negara Jerman modern.

Dari hasil pemeriksaan sementara, telah ditemukan 327 kasus yang benar-benar memperlihatkan gerakan ekstremisme sayap kanan. Ratusan kasus yang sudah diselidiki menandakan bahwa ada peningkatan kasus secara signifikan dari laporan awal yang dirilis pada tahun 2020. Yang mengejutkan kasus ekstremisme ini bahkan melibatkan anggota dinas intelijen militer Jerman (MAD), dengan 83 karyawan dikonfirmasi telah mengambil bagian dalam “kegiatan ekstremis secara individu”; Tak hanya itu, Polisi Federal Jerman juga memiliki problematika sama.

Hasil investigasi menunjukkan bahwa ada 18 anggota polisi yang turut terlibat dalam gerakan ekstremisme sayap kanan. Wajah ekstremisme sayap kanan yang berlindung pada otoritas keamanan Jerman sejatinya merupakan warisan terpendam sejak zaman Nazi dulu. Bahkan beberapa kader baru kepolisian yang sempat diwawancarai oleh jurnalis Rob Schmitz menyatakan bahwa mereka sejak berada dalam pendidikan, sudah sering mendengarkan pernyataan rasis dari mentor atau senior mereka.

Salah satunya, ketika diajarkan dasar-dasar menembak. Dengan santai, salah satu pengajar mereka menekankan agar mereka bersungguh-sungguh melatih diri agar lihai dalam menembak jitu, sebab nanti akan banyak pengungsi datang ke Jerman. Mendengar kata-kata itu, ia merasa bahwa budaya diskriminasi masih sangat kental dalam internal agensi keamanan di Jerman. Dan sayangnya, kultur negatif tersebut tidak pernah mendapatkan perlawanan maupun masukan dari sesama anggota.

Bahkan acap kali yang tidak setuju, justru didiamkan. Kondisi ini tentunya semakin menunjukkan bahwa budaya rasisme terus dipertahankan, bahkan dalam system pendidikan militer sekalipun. Tak hanya itu, dalam percakapan media sosial para kadet pun, video ataupun meme yang bertema diskriminasi kerap beredar dan ditanggapi dengan tawa ringan para anggota grup.

Ketika ada yang protes, para anggota lain justru menggapnya berlebihan dan terus saja menambahkan bahan candaan lain yang tak kalah rasis dan provokatif. Mereka bahkan tak segan mengungkapkan secara terbuka bahwa mereka amat benci orang-orang Afrika. Rasisme dan ekstremisme di kalangan polisi adalah isu sensitif di Jerman, negara yang masih dihantui oleh pembunuhan 6 juta orang Yahudi selama kediktatoran Nazi di Perang Dunia II.

Terlepas dari sejarah yang bermasalah ini, peneliti gerakan sayap kanan di Jerman, Andreas Speit mengatakan pemerintah Jerman sering berlarut-larut ketika dihadapkan untuk menyelidiki rasisme. Sebagian besar kasus terungkap karena informasinya bersifat anonym. Namun investigasi biasanya memakan waktu terlalu lama. Menurut Speit, penyelidikan internal amat menyulitkan bagi polisi.

Meski sudah memiliki banyak bukti, sayangnya menteri dalam negeri sendiri tidak berpikiran terbuka untuk mau memulai studi empiris tentang meningkatnya simpati sayap kanan di antara pasukan keamanan Jerman. Yang miris, pejabat setempat telah berulang kali menolak untuk mengakui adanya masalah rasisme atau ekstremisme sayap kanan di antara jajaran polisi.

Bahkan pada bulan Juli tahun lalu, ketika protes meletus di seluruh AS dan Eropa atas pembunuhan George Floyd, otoritas setempat tiba-tiba menghentikan penyelidikan yang terkait dengan profil rasial di antara polisi Jerman. Padahal, tiga bulan kemudian langsung terungkap bahwa ada 377 kasus dugaan ekstremisme sayap kanan di antara 42.000 pasukan polisi federal Jerman dan lebih dari 1.000 kasus tersebut telah diperiksa selama tiga tahun.

Melihat fakta ini, jika memang Pemerintah Jerman serius dalam menangani kasus ekstremisme sayap kanan, seharusnya seluruh agen pemerintah perlu mengambil tindakan yang jauh lebih agresif untuk memastikan departemen kepolisian dan militer tidak lagi menjadi ‘rumah persembunyian’ bagi para ekstremis. Dan langkah awal bisa dimulai dengan memeriksa latar belakang calon kadet-kadet baru.

TERBARU

Konten Terkait