26.4 C
Jakarta
Jumat, 14 Juni 2024

Mengurai Konflik Israel-Palestina Berdasarkan Sejarah Abrahamic Faith

Kesamaan konsep Abrahamic Faith
Abrahamic berkaitan dengan Abraham atau Ibrahim, bapak segala Nabi. Para pengkaji Muslim dan Barat mengakui agama Yahudi, Kristian dan Islam berasal dari Nabi Ibrahim. Ini diperkukuhkan lagi dengan kisah-kisah historis dalam kitab suci masing-masing. Sedangkan Faiths merupakan perkataan bahasa Inggris yang berasal dari Latin fidere yang bermaksud untuk mempercayai (to trust) (Reese 1980: 166).

Ketiga agama tersebut dimasukkan dalam agama nabi Ibrahim karena memiliki ciri-ciri yang sama. Ciru-ciri tersebut antara lain, 1) agama tersebut merupakan agama yang berasal dari keturunan Nabi Ibrahim (Valkenberg 2006); 2) Ketiga-tiga agama tersebut merupakan agama monotisme yaitu mengajarkan untuk menyembah Tuhan yang Satu (Chittister 2006), 3) ketiga agama tersebut sama-sama memiliki Nabi yang mereka yakini sebbagai utusan Tuhan.

Selain itu, konsep agama Yahudi, Kristen dan Islam berdasar pada Unitarian monoteisme yang merupakan doktrin kepercayaan pada satu Tuhan. (Amaliyah, 2017). Allah-lah yang menjadi Tuhan berdasarkan kepercayaan Islam, Yahudi dan Kristen. Hanya saja dalam praktiknya ketiganya memiliki perbedaan pelaksanaan dan cenderung memiliki penafsiran tersendiri.

Berdasarkan fakta historis, figur Ibrahim terdistorsi oleh pengalaman sejarah yang berbeda antar satu agama dengan agama yang lainnya. Meskipun ia adalah satu orang yang sama, namun masing-masing agama menggambarkan Ibrahim dengan sosok yang sama sekali berbeda. Sehingga muncul Yahudisasi Ibrahim, Kristenisasi Ibrahim, dan Islamisasi Ibrahim. Bahkan memunculkan persaingan antara Ibrahim dalam satu agama dengan Ibtahim pada versi agama lainnya.

Memperebutkan dominasi atas Yerussalem sebagai penyebab konflik Israel-Palestina
Penyebab utama konflik Abrahamic Faith adalah perebutan posisi dominan atas Yerusslaem, kota impian ketiga agama samawi. Sebuah kota yang terletak di Palestina, kota suci yang telah dijanjikan Taurat didalamnya. Terdapat tembok yang dianggap suci oleh Yahudi yaitu tembok ratapan. Mereka meyakini tembok tersebut tidak akan hancur karena ada kekuatan Tuhan didalamnya. Berdoa didepan tembok ratapan diyakini sama dengan berdoa di hadapan Tuhan.

Dalam pemahaman Yahudi yang direpresentasikan oleh Israel isi Taurat yang menyatakan bahwa Yahudi akan mengalami kemenangan jika Yerussalem mereka kuasai kembali. Karena jauh sebelum Nasrani dan Islam datang dengan risalahnya, Yahudi adalah agama samawi pertama yang memiliki warisan sejarah di Yerussalem.

Kemudian dengan datangnya agama Kristen, muncullah konflik antar keduanya. Perang dingin yang terjadi antara Kristen dan Yahudi telah ada sejak munculnya pemahaman Kristen yang meyakini bahwa kaum Yahudilah yang melakukan penyaliban terhadap Isa Al-Masih. Penyaliban itu diyakini terjadi di Yerussalem, dan meyakini bahwa kebangkitan Messiah juga akan terjadi di tempat dimana ia disalib. Yahudi tidak mengakui Isa sebagai Rasul apalagi Tuhan. (Attamimi, 1994). Keterangan ini semakin diperkuat dengan adanya bukti-bukti pemusnahan bangsa Yahudi secara massal atas nama Isa Al-Masih.

Sedangkan perseteruan antara Kristen dan Islam dimulai sejak keberhasilan ekspansi Arab atas kemenangan Palestina di masa kekaisaran Byzantium. Hal ini mengakibatkan terbatasnya akses masyarakat Kristen untuk melakukan ziarah ke makam kudus Messiah. Meskipun mereka sudah membayar pajak yang tinggi pada khalifah namun orang-orang Seljuk dimasa kekhalifahan Abdul Hakim pada saat itu tetap tidak memberikan akses pada masyarakat Kristen untuk melakukan ziarah.

Kekisaran Byzantium ingin menjaga eksistensi masjid al-Aqsa yang memiliki sejarah panjang disyariatkan perintah sholat bagi muslim dalam peristiwa Isra Mi’raj. Terlebih, Masjidil al-Aqsa adalah kiblat pertama muslim sebelum dipindahkannya arah kiblat ke Makkah. Maka pelarangan ziarah bagi umat Kristen oleh Khalifah Saljuk bertujuan untuk mempertahankan independensi Yerussalem sebagai tempat bersejarah bagi Islam.

Hal ini memicu kemarahan Paus Urbanus II dan menilai itu adalah suatu penindasan dan perlakuan yang tidak manusiawi. Kristen menganggap Islam sebagai perampok dan segera melakukan suatu upaya untuk melakukan perebutan terhadap Baitul Maqdis. (Sanusi, 2001) Maka terjadilah peristiwa perang salib yang terjadi selama dua kali pertempuran dan semakin mempekuat ketegangan antar Kristen dan Islam saat itu.

Perang semakin memanas karena kedua pasukan sama-sama mengatasnamakan pedangnya dengan nama agama dan Tuhan. Kristen menganggap perang salib sebagai holy war (perang suci), sehingga pasukan Kristen yang gugur diyakini akan mendapatkan pengampunan messiah. Sedangkan Islam juga mengatasnamakan pedangnya dengan jihad yang menjanjikan surga bagi mujahid yang gugur di medang perang. Melalui Solahuddin al-Ayyubi akhirnya peperangan berakhir dengan kembalinya otoritas Muslim di wilayah Yerussaleam.

Membangun inklusifisme Abrahamic Faith sebagai upaya mencapai perdamaian Israel-Palestina
Karena sama-sama mengusung monoteisme, sama-sama memiliki kitab suci yang diyakini berasal dari Tuham, dan sama-sama memiliki Nabi sebagai penyambung wahyu, maka ketiga agama Ibrahim merasa keyakinannya-lah yang paling benar. Hal inipulalah yang menyebabkan langgengnya konflik agama Ibrahim.

Tindakan mengecam, dan mengutuk yang selama ini masif dilakukan oleh muslim diseluruh dunia atas tindakan Israel justru akan semakin menguatkan semangat jihad mereka atas penegakan kembali agama Yahudi. Karena motif Israel sebagai refresentasi Yahudi dalam penyerangan terhadap Yerusslaem adalah tuntunan kitab suci Taurat yang mereka yakini kebenarannya. Semakin banyak yang mengecam, semakin kuat jihad yang akan mereka lakukan.
Maka sebagai bentuk dukungan terhadap saudara muslim di Yerussalem yang bisa kita lakukan saat ini adalah dengan mengkampanyekan Ibrahim inklusif.

Hal ini sejalan dengan pendapat Amir Ghufron (2014), yang menyatakan bahwa keselamatan bukanlah milik agama tertentu. Semua agama mengklaim agamanya sebagai agen perdamaian, peperangan dan genjatan senjata seringkali dimaknai sebagai perlindungan terhadap agama yang diyakini kebenarannya oleh masing-masing pemeluknya.

Maka pemeluk agama yang satu harus memberikan kesempatan pada pemeluk agama lain untuk saling mempraktikan eksklusifisme agama dilingkungannya sendiri-sendiri. Dan menerapkan agama yang inklusif ketika berinteraksi dengan agama lainnya.

TERBARU

Konten Terkait