26.4 C
Jakarta
Jumat, 14 Juni 2024

Terapi Seni untuk Pencegahan Kekerasan Ekstremisme

Hal-hal yang berkaitan dengan seni, bagi orang awam yang tidak menjadikannya profesi, seringkali hanya dieksplorasi sebagai kegiatan yang dilakukan ketika waktu senggang. Namun baru-baru ini sebuah studi dari Denmark yang dipublikasikan pada tahun 2017 lalu, menunjukkan bahwa aktivitas seni juga bisa menjadi media terapi yang efektif untuk peningkatan kesehatan mental. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, seni dapat dimanfaatkan sebagai bentuk rehabilitasi bagi individu yang memegang teguh paham ekstremisme.

Contoh nyata dari penerapan terapi seni tersebut salah satunya dilakukan pada tanggal 18 Juli 2020 oleh cabang PBB yang bergerak di bidang Narkoba dan Kejahatan (UNODC), bekerja sama dengan Komite Penjara Kementerian Dalam Negeri Kazakhstan. Kegiatan mereka yang awalnya dijadikan ajang peringatan hari Nelson Mandela, diselenggarakan dengan tujuan untuk mempromosikan penggunaan seni sebagai bentuk rehabilitasi dan reintegrasi narapidana.

Tak hanya itu, melalui terapi seni juga, diharapkan kapasitas petugas penjara terus meningkat karena dalam seni terdapat proses relaksasi pikiran. Selama kelas, para narapidana belajar tentang dasar-dasar melukis abstrak dan teknik melukis akrilik. Dengan memberikan terapi seni, UNODC dan Komite Penjara berharap dapat memfasilitasi pembangunan rangsangan seni, meningkatkan rangsangan mental, mengurangi stres, meningkatkan harga diri narapidana, dan memberikan keterampilan yang nantinya akan bermanfaat ketika mereka telah keluar dari sel tahanan.

Tak hanya menyelenggarakan workshop saja, usai kelas dilaksanakan, panitia selanjutnya mewadahi dan mempromosikan karya-karya para tahanan Kazakhstan dengan menyelenggarakan pameran foto online. Pameran tersebut menampilkan foto- foto yang dikirimkan melalui kompetisi antar lembaga pemasyarakatan (lapas) yang berlokasi di wilayah Karaganda dan Pavlodar.

Para pesaing mengirimkan foto-foto yang terinspirasi dari Nelson Mandela, aktivis dari Afrika Selatan, untuk memperlihatkan komitmen mereka terhadap hak asasi manusia dan keadilan. Sebagai hasil dari kompetisi, sepuluh karya pemenang diposting di halaman Facebook Kantor Regional UNODC untuk Asia Tengah. Komite Penjara Kementerian Dalam Negeri Kazakhstan dan UNODC juga menggunakan kesempatan itu untuk mempromosikan “Kursus E-learning Interaktif UNODC tentang Aturan Minimum Standar PBB yang berkaitan dengan Perlakuan terhadap Tahanan”.

Video interaktif yang unik tersebut mengundang peserta untuk tidak hanya menghafal aturan tetapi juga menerapkannya dalam aktivitas sehari-hari mereka. Sampai saat ini, lebih dari 1.100 petugas penjara Kazakhstan telah menyelesaikan kursus tersebut. Video animasi dan kolase foto dari kohort pertama selanjutnya dibagikan di media sosial untuk mendorong lebih banyak petugas untuk mendaftar.

Kolase foto, yang dirancang untuk menggambarkan Nelson Mandela, diberi judul ”Kazakhstan Champions of Nelson Mandela Rules” untuk menghormati komitmen para perwira untuk mengenang aktivisme Nelson Mandela semasa hidup. Selain itu, UNODC dan Kementerian Dalam Negeri Republik Kazakhstan juga mengadakan pembukaan Pusat Pelatihan Staf Penjara di Akademi Kostanay yang dinamai Shyrakbek Kabylbayev sebagai komitmen untuk membangun kapasitas petugas lapas yang jauh lebih kompeten dan humanis.

Pembangunan sarana baru tersebut juga bertujuan untuk mengatasi masalah mendesak terkait penyebaran ekstremisme di lembaga pemasyarakatan. Ini akan memberikan pelatihan berkelanjutan bagi staf penjara yang terlibat dalam proses rehabilitasi bagi mereka yang dihukum karena ekstremisme dan kejahatan terkait terorisme. Sebab, selama ini kelengahan petugas acap kali berkontribusi terhadap tumbuhnya bibit baru radikalisme di sel tahanan.

Untuk mencegah itu terjadi, terapi seni akan terus digencarkan agar para tahanan dapat mengeksplorasi diri dan jauh lebih terbuka terhadap hal-hal baru, karena seringkali mereka yang terpapar radikalisme mengalami proses alienasi dari lingkungan tempat mereka berada. Tak hanya di Kazakhtan, di Arab Saudi, terapi seni telah menjadi alat yang ampuh dalam membantu mereformasi ekstremis radikal yang hampir bergabung dengan kelompok militan seperti ISIS dan al Qaeda.

Di salah satu pusat konseling di Riyadh, kelas melukis adalah salah satu metode yang digunakan dalam proses rehabilitasi individu yang teracuni paham radikalisme. Pasien di pusat rehabilitasi tadi, atau yang disebut sebagai penerima manfaat, menjalani program deradikalisasi komprehensif yang bertujuan untuk menyiapkan mereka sebelum reintegrasi ke dalam masyarakat arus utama.

Seiring dengan terapi seni, pasien bekerja dengan ulama, psikolog, sosiolog, dan instruktur olahraga, serta keluarga dan mantan boss mereka, untuk menciptakan pendekatan holistik yang terbukti sangat efektif dalam membantu mereka memiliki pemikiran yang jauh lebih terbuka. Lewat terapi seni, salah satu staf konseling menyampaikan bahwa, “sesungguhnya para ektremis itu menyimpan penderitaan yang terus dipendam. Terapi seni selanjutnya membantu menyalurkan emosi mereka, dan di saat yang sama mereka juga diberi kesempatan untuk mengekspresikan perasaan tersebut.”

TERBARU

Konten Terkait