26.7 C
Jakarta
Senin, 15 April 2024

Bagaimana Dampak Ekstremisme Kekerasan pada Perempuan dan Anak

Aksi ekstremisme makin hari semakin meningkat, hal itu terjadi karena perempuan dan anak-anak ikut terlibat didalamnya. Jika dulu terjadi perilaku ekstremisme biasanya pelakunnya adalah laki-laki (mayoritas laki-laki) atau dipastikan hapir semua pelakunya laki-laki. Namun hal tersebut mengalami perubahan, diperkirakan sejak pertengahan tahun 2000 perempuan dilibatkan dan terlibat dalam perilaku ekstremisme. Jika dulu perempuan dan anak-anak hanya sebatas ikut terlibat dalam bantuan atau dukungan perilaku ekstremisme dan terorisme, sekarang perempuan ikut andil sebagai pelaku ekstrisme seperti aksi bom bunuh diri yang terjadi di depan Gereja Katedral Makassar pada 28 Maret 2021.

Sebelum kejadian tahun 2021, aksi bom bunuh diri juga terjadi pada tahun 2019 yang dilakukan oleh Solimah yang merupakan istri dari terdakwa terosrisme (Abu Hamzah). Aksi tersebut terjadi di Sibolga Sumatera Utara, Solimah beserta anaknya yang berusia dua tahun lebih memilih untuk melakukan aksi bom bunuh diri dibandingkan dengan menyerahkan diri kepada pihak berwenang. Hal tersebut menunjukan bahwa kelompok gabungan propaganda ini semakin memperkokoh pertahannnya untuk melancarkan aksinya dengan melibatkan permpuan dan anak-anak.

Ektremisme merupakan sebuah ideologi yang berisikan tindakan yang melakukan cara-cara berlebihan termasuk kekerasan atau ancaman yang berlebihan yang memiliki tujuan mendukung dan memperkokoh aksi terorisme. Perilaku ekstremisme dan terorisme bukan bagian dari idiologi Islam atau agama lain, karena sejatinya setiap agama selalu mengajarkan untuk hidup damai penuh dengan kasih sayang (welas asih antar sesama) bukan mengajarkan perilaku dan tindakan yang diluar batas kewajaran bahkan kekerasan yang menimbulkan kematian.

Pengaruh terjadinya tindakan ekstremisme salah satu yang melatar belakanginya adalah wujud keinginan manusia untuk menjadi hamba yang paling bertaqwa dengan berjihad. Namun kekeliruannya terletak pada aspek pemahaman dan tindakan. Karena berjihad bukan berarti melakukan tindakan diluar batas kewajaran, dengan istiqomah membangun dan menjalin perdamaian adalah bagian dari jihad. Pemikiran keliru terkait jihad sendiri dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya adalah pemikiran abu-abu dimana tidak memiliki keyakinan yang kuat akan ajaran agama yang benar-benar mengajarkan perdamaian (moderat). Sehingga pemikiran semacam ini akan mudah terpengaruh oleh propaganda kelompok ektremisme dengan memanfaatkan pemikiran abu-abu tersebut.

Dengan terlibatnya perempuan dan anak dalam perilaku ektremisme menunjukan bahwa dalam menganalisis hal tersebut tidak cukup dilakukan hanya dari satu sudut pandang. Perlunya menggunakan analisis gender dan pengarusutamaan gender dalam upaya pencegahan dan penanggulangan ekstremisme serta terorisme. Dampak dari tindakan atau perilaku ektremisme sangat berpengaruh dalam berbagai aspek salah satunya bagi perempuan dan anak. Pertama, biasanya keluarga yang tergabung dalam kelompok ektremisme tidak memiliki data kependudukan yang akhirnya akan kesulitan mendapat bantuan dari pemerintah.

Kedua, keluarga yang pernah tergabung dalam aksi tersebut biasanya akan mendapatkan stigma negativ di masyarakat, sehingga mereka akan merasa digunjing dan dikucilkan dari lingkaran social masyarakat yang mana akan menambah rasa trauma dan mengganggu kecemasan. Ketiga, Kematian, kecacatan fisik dan trauma berkepanjangan akan menghantui perempuan dan anak di luar lingkaran jaringan ekstremisme yang mana hal tersebut akan menghabat keberlangsungan hidup keduanya baik untuk perempuan (Ibu) dan anak. Misalnya kesulitan melakukan aktivitas dan sulit mendapatkan pekerjaan karena terkendala cacat fisik.

Keempat, bagi anak dampaknya juga sangat luar biasa. Biasanya anak yang hidup dalam lingkaran ektremisme akan dikucilkan yang mana ini mempengaruhi kesehatan mental dan tumbuh kembangnya. Dengan hal ini akan berpotensi menimbulkan konflik baru karena merasa diperlakukan tidak adil oleh lingkungannya seperti dijauhi teman-teman dan menjadi korban bullying. Kelima, Perempuan akan kehilangan potensi untuk menikah yang tentunya berpengaruh pada kehidupan keluarganya istri kehilangan suami dan anak kehilangan sosok ayah. Hilangnya potensi tersebut dipengaruhi oleh cacat fisik dan stigma negatif yang menghampiri mereka.

Dengan banyaknya dampak yang ditimbulkan oleh perilaku ekstremisme tersebut maka pencegahan harus terus menerus dilakukan. Dampak luar biasa tersebut akan berpengaruh pada berbagai sektor dan menimbulkan banyak permasalahan seperti meningkatnya angka kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, perempuan banyak mengalami ketidak adilan termasuk diskriminasi.

TERBARU

Konten Terkait