30.1 C
Jakarta
Sabtu, 13 Juli 2024

Menelusuri Bagaimana Para Perempuan di Kamp Pengungsian ISIS Bertahan dari Hari ke Hari

“Janji tinggallah janji. Harapan itu hanya menyisakan omong kosong.”

Mungkin ungkapan tersebut pantas disampaikan pada para provokator ISIS yang dulu menjanjikan ‘surga’ pada calon-calon jihadis yang mengorbankan seluruh jiwa, raga, dan harta kepada mereka. Bagaimana tidak, bukannya memperoleh tanah, rumah, dan kehidupan yang tenang serta nyaman. Kini sebagian besar mereka justru terombang-ombingdalam dinamika kehidupan yang tak pernah jelas ujungnya di Kamp Al Hawl, salah satu komplek pengungsian terbesar di Suriah yang menampung eks pejuang ISIS dan keluarganya.

Banyak dari mereka adalah warga asing yang menjadi korban pro paganda manis ISIS. Selama ini mereka bergantung hidup dari bantuan internasional untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dengan mendapat cap sebagai eks-kombatan ISIS, sulit bagi mereka untuk pulang ke negara asal.

Banyak negara memutuskan untuk menolak mereka dengan alasan keamanan. Meski banyak dari mereka yang menyatakan bahwa mereka tak lagi bagian dari ISIS, pernyataan tersebut tak diterima mentah-mentah. Kondisi ini pun kemudian membuat mereka terlunta-lunta di komplek pengungsian yang berada di Utara Suriah tersebut.

Di tengah kondisi ini, ratusan perempuan yang dulunya berbaiat kepada ISIS pun mulai goyah. Mereka tidak melihat masa depan di depan mata. Demi keluar dari krisis dan keterbatasan, mereka bahkan rela menikah secara online agar suami baru mereka memberikan maha ruang yang dapat digunakan untuk menyuap penjaga kamp pengungsian, atau paling tidak memenuhi kebutuhan sehari-hari selama di sana. Seorang perempuan asal Rusia mengaku dirinya hampir tiap hari mendapatkan tawaran untuk menikah, terutama dari pendukung ISIS yang tinggal di Eropa dan berlatar belakang keluarga muslim.

Salah satu postingan dalam Grup Facebook pendukung ISIS bahkan secara terbuka mencari perempuan relijius yang kini tinggal di Kamp Pengungsian. Ia bahkan menyampaikan dengan blak-blakan bahwaia akan membantunya keluar dari sana berapa pun biayanya. Meski belum ada data pasti, berapa banyak perempuan yang berhasil keluar dari Al Hawl dengan cara ini, namun terindikasi bahwa kemungkinan jumlahnya sudah mencapai puluhan. Hal tersebut terlihat dari beberapa tenda yang kini kosong, tak berpenghuni. Padahal dulu, untuk mendapatkan satu tempat saja, orang harus terlibat konflik mulut dan fisik terlebih dahulu.

Di sisi lain, lebih banyak perempuan yang tak memiliki pilihan selain bertahan hidup di Al Hawl. Mereka mengisi hari dengan menanti donasi. Jika waktu makan tiba, mereka langsung bergegas mengantri untuk mendapatkan jatah. Meski tahu bahwa ada beberapa cara untuk kabur dan meninggalkan tenda pengungsian, mereka masih berharap ISIS kembali dan membangkitkan negeri khilafah yang mereka impikan. Pun, jika mereka tak mendapatkan kesempatan untuk mengalaminya, mereka percaya bahwa generasi penerusnyalah yang mengambilalih kendali, “anak-anak kami berada di jalur Tuhan dan kekhalifahan ISIS takakan berakhir. Kami ingin memberitahu seluruh dunia bahwa ISIS akan kembali.”

Meskiharapanakan ISIS masihtersisa di benak sebagian penghuni kamp, namun realit amenunjukkan hal yang sangat kontras. Komplek pengungsi yang didirikan pada tahun 2016 lalu itu kian hari makin terlihat kumuh. Fasilitas pendidikan tidak tersedia, pun pelayanan kesehatan yang ada amat minim. Tak heran, banyak dari mereka jatuh sakit dan terkena gangguan kesehatan mental. Hal ini kemudian mendorong semakin banyaknya konflik di antara para pengungsi, termasuk salah seorang WNI yang ditengarai menjadi korban pertikaian, meski tidak ada penelusuran lebih lanjut mengenai kasusnya.

Sudarmi, nama perempuan tersebut ditemukan meninggal oleh otoritas setempat dengan beberapa luka memar pada tubuhnya. Saat meninggal, ia berada dalam kondisi hamil enam bulan. Kasus yang menimpa Sudarmi bukanlah kali pertama. Di Al Hawl, warga lokal memperkirakan bahwa di bulan Januari lalu saja, tercatat ada 20 orang terbunuh karena konflik antar individu kian memanas.

Dengan pelayanan publik yang terbatas, dan tidak ada kepastian untuk melanjutkan hidup, para perempuan dan anak-anak di sana hanya berjuang untuk mempertahankan hidup di tengah kondisi yang serba terbatas. Tak heran, mal nutrisi hingga hipotermia menjadi hal yang biasa. Dengan pelayanan kesehatan yang minim, akhirnya banyak anak mati sia-sia.

Yang miris, kondisi tersebut masih dimanfaatkan eks ISIS untuk menciptakan terror membabi buta. Beberapa dari mereka yang dianggap bukan muslim bisa menjadi sasaran hukuman mati ala ISIS. Di bawah bayang-bayang ancaman ini, banyak perempuan korban propaganda hanya bisa mengelus dada. Di satu sisi mereka menyesal, di sisi lainnya mereka tahu bahwa hidup mereka akan dibawa kemana.

TERBARU

Konten Terkait