30.5 C
Jakarta
Jumat, 24 Mei 2024

Menakar Tingkat Ekstremisme di Aceh

Aceh teryata terdiri dari masyarakat yang pluralis. Hal ini dilihat dari suku, Bahasa dan budaya di Aceh. Namun ternyata sejumlah ruang intoleransi masih terjadi di Aceh. Di tambah lagi, Aceh sudah menerapkan aturan syariat Islam, harusnya ruang intoleransi sesame agama berkurang di Aceh.

Menurut Aktivis Perempuan Aceh, Suraiya Kamaruzzaman, sebelumnya tidak pernah ada imam dan khotib yang dipukul. Kemudian, ada masjid yang kabar. ”kerusuhan di dalam masjid. Lalu, membawa lari mimbar, memhancurkan masjid yang dibangun. Hal yang paling membuat kaget adalah masjid yang dibakar di Singkil. Setelah ditelusuri, kejadian tersebut karena permasalah politik,” terangnya, dalam agenda WGWC Talk 17, belum lama ini.

Berdasarkan dari riset Setara Institut, menurutnya, Kota Banda Aceh menjadi salah satu kota intoleran. Hal tersebut terjadi selama tiga kali berturut-turut. Sejumlah pihak malah melakukan counter terhadap riset tersebut. Riset lainnya yang dilakukan oleh FKTP Provinsi Aceh adalah sikap dari masyarakat menunjukan nilai yang rendah namun tingkat pemahaman masyarakat cukup tinggi.

”kelompok inklusif di Aceh cukup banyak. Namun tingkat kebinekaan kelompok ekslusif di Aceh cukup tinggi. Walaupun riset BNPT menunjukan angka yang serius, namun potensi terorisme di Aceh tidak seperti Poso,” terangnya.

Dalam beberapa waktu lalu, lanjutnya, Inongbale tidak ada kaitannya dengan terorisme. Namun, terdapat potensi yang mana para perempuan eks inongbale ini merasa kecewa dengan sejumlah perlakukan terhadap mereka. ”Keadaan ini di permukaan diungkap baik-baik saja. Bahwa Aceh cukup toleran. Namun, realita di lapangan berbeda,” katanya.

Saat ini yang menjadi kekhawatiran pihaknya adalah ketika keadaan tersebut tiba-tiba terjadi. Seperti belum lama ini terdapat sejumlah orang yang ditangkap oleh densus 88 yang mana salah satu diantaranya merupakan ANS, mantan TNI dan lainnya. Keadaan tersebut cukup mengejutkan.

Dirinya mengingatkan salah satu teman perempuan saat melakukan pendampingan. Di mana, ungkap dia, para ibu-ibu bercerita untuk ingin masuk ISIS dan melarang sejumlah ibadah. Keadaan ini menunjukan, jika doktrin ekstremisme terus terjadi. ”jangan sampai kita lalai dan kita belum siap menerimanya. Sehingga dilakukan strategi untuk pencegahan agar hal tersebut tidak terjadi,” pungkasnya.

TERBARU

Konten Terkait