28.7 C
Jakarta
Senin, 4 Desember 2023

Yang Seharusnya Netizen Lakukan Jika Terjadi Bom Bunuh Diri Lagi

Minggu seharusnya jadi hari yang penuh suka cita, khususnya bagi umat Katolik yang merayakan Minggu Palma. Namun yang terjadi, minggu justru jadi hari yang kelabu karena sebuah bom bunuh diri meledak di depan Gereja Katedral Makassar. Kabar pilu ini langsung menyebar dengan cepat melalui berita dan media sosial—dan dalam waktu singkat menjadi berita utama serta trending topic di lini masa.

Dengan besarnya perhatian yang diberikan terhadap kejadian ini, kalau tidak berhati-hati, kita bisa secara tidak sengaja membantu kelompok teroris untuk mencapai tujuan mereka menyebarkan ketakutan dengan membagikan kengerian seperti video dan foto-foto korban yang tentu saja bisa bikin orang yang lihat ikut merasa ketakutan.
Nah, sebagai netizen, apa sih yang seharusnya kita lakukan agar nggak ikut membantu kelompok teror mencapai tujuan itu?

Berikut tiga hal wajib yang harus dilakukan ketika terjadi aksi terorisme.

Pertama, SETOP. Udah, udah, tahan dulu keinginan untuk berkomentar—apalagi berspekulasi tentang apa yang terjadi sebelum aparat mengeluarkan berita resmi.

Kenapa jangan dulu ikut berkomentar? Pertama, terlalu banyak pendapat—khususnya yang belum terverifikasi—hanya akan membuat kondisi semakin simpang siur. Kedua, pendapat-pendapatmu itu bakal bikin orang pusing dan emosi karena dalam keadaan banjir informasi, otak tidak bisa memilah mana berita yang benar, mana yang salah, sehingga cenderung memilih untuk memroses berita-berita yang sifatnya menggugah perasaan saja—bikin marah, atau sedih. Ketiga, kalau kamu bukan ahli, kayaknya ya nggak ada juga yang minta pendapatmu, iya nggak, sih? /heh.

Berduka boleh, ngirim doa boleh, tapi sotoy dan berprasangka, jangan, ya!

Kedua, jangan membagikan foto korban/pelaku termasuk foto-foto kerusakan yang terjadi di tempat kejadian. Jangan membagikan kengerian karena itulah yang diinginkan oleh kelompok teror biar kita ikut merasa takut. Kalau kita takut, nanti mereka semakin bersemangat untuk melakukan aksi kejut berikutnya.

Dalam perspektif kriminologi, pelaku kejahatan selalu dilihat sebagai orang yang rasional karena mereka beroperasi di bawah kerangka pleasure-maximizing. Dari sini mereka membuat pilihan-pilihan rasional mengenai aksi mana yang kiranya akan lebih banyak memberikan mereka pleasure atau kesenangan. Dalam konteks terorisme, mereka juga dilihat sebagai aktor rasional karena sebelum melakukan aksi, mereka memperkirakan apa saja keuntungan dan kesenangan yang akan mereka dapatkan. Artinya, hal paling krusial yang harus dilakukan ketika terjadi aksi teror adalah menurunkan “nilai” ,“imbalan”, atau “kesenangan” yang diharapkan oleh kelompok teroris dengan tidak memberikan apa yang mereka pikir akan mereka dapatkan itu.

Jika mereka berharap mendapat pemberitaan besar-besaran, kita harus meminimalisir pemberitaan yang menyorot aksi teror agar mereka berpikir bahwa serangan yang mereka lakukan ternyata tidak signifikan. Harapannya hal ini bisa membuat mereka memutuskan mengevaluasi dan membatalkan serangan-serangan serupa yang telah direncanakan.

Ketiga, sebagai netizen, kita harus memegang teguh prinsip “THINK” sebelum menyebarkan atau mengetikan sesuatu di lini masa kita. Pertanyakan dulu, apakah yang mau kita bagikan adalah sesuatu yang true atau benar? apakah unggahan itu hurtful atau berpotensi menyakiti orang lain? apakah ia illegal? apakah necessary atau penting untuk diketahui oleh orang lain? dan terakhir, apakah unggahan itu kind atau santun dan tidak menggunakan kata-kata yang menyinggung orang lain?

Jika apa yang mau kita bagikan tidak mencakup satu saja dari komponen THINK tadi—misalnya tidak kind, maka jangan disebarkan!

Dalam konteks terorisme, menyebarkan berita soal teror—khususnya jika melihat berita-berita di media massa arus utama yang sangat eksplisit menggambarkan kondisi korban, dan berkali-kali menggunakan judul “potongan tubuh”, “potongan kepala” jelas bukan hal yang kind atau santun.

Belum lagi, banyak juga berita-berita tidak sensitif seperti wawancara saksi kejadian yang seharusnya diberikan waktu untuk memulihkan kondisi psikisnya terlebih dahulu—bukannya malah diberondong pertanyaan yang bisa membuka trauma—dan tentu saja, berita unnecessary atau tidak penting untuk diketahui seperti pendapat para artis atau influencer yang sama sekali tidak relevan dengan kejadian ini.

Kalau kita membaca dan membagikan berita-berita seperti ini, nanti pasti akan lebih banyak berita nggak sensitif dan nggak jelas yang serupa karena dikiranya berita-berita seperti itu banyak yang suka. Akhirnya, bikin makin banjir informasi deh, mana informasinya kebanyakan nggak berguna pula. Kan kasihan otak kita jadi nggak punya ruang buat informasi penting yang bisa bikin kita mikir jernih di keadaan yang genting.

Tiga hal ini sebenarnya pengetahuan umum yang seharusnya diketahui oleh siapa saja. Tetapi jika melihat apa yang terjadi sesaat setelah aksi bom kemarin, kita bisa berkesimpulan bahwa banyak orang masih belum memahami hal trivial seperti ini. Dan jika kamu termasuk orang di dalam golongan ini, bersyukurlah karena sekarang kamu sudah tahu sehingga kamu tidak lagi berkontribusi membantu kelompok teror menyebarkan ketakutan. Hiii.

Ancaman teror di Indonesia jelas masih belum selesai. Apa yang terjadi di Gereja Makassar bisa jadi hanya puncak dari gunung es. Artinya masih ada kemungkinan terjadi serangan di masa depan. Ketika hal itu terjadi, ingat, JANGAN MENYEBARKAN apa pun yang menyebabkan kengerian!!!

TERBARU

Konten Terkait