30.5 C
Jakarta
Jumat, 24 Mei 2024

Ulama Perempuan Bicara Radikalisme

WGWC Talk Seri #8 mengangkat tema ”Masih Pakai Akalkah Beragama? Ulama Perempuan Bicara Deradikalisasi”, Kamis (3/92020). Agenda menghadirkan narasumber yaitu Dr. Hj Luluk Farida yang merupakan Ulama Perempuan dan Dr. Inayah Rohmaniyah. S. Ag.M yang menjadi Dekan Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Serta dua orang penanggap yaitu Pera Sopariyanti yang merupakan direktur Rahima dan Adlin Sila yang menjadi ketua Puslitbang Kementerian Agama. pada agenda ini dimoderatori oleh Dewi Winarti yang menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Fatayat NU Jawa Timur. Agenda yang dilaksanakan menghadirkan sekitar 65 peserta.

Pengalama ulama perempuan untuk melakukan kontra narasi terhadap ekstremisme kekerasan di dalam masyarakat sudah banyak dilakukan. Di antaranya yang dilakukan oleh Nyai Luluk Farida dan Nyai Inayah Rohmaniyah. Misalkan Nyai Luluk Farida yang bergerak melalui majelis taklim di Malang. Nyai Luluk ini melakukan dakwah yang menarik untuk melakukan kontra narasidenganmemberikanpandangan agama antara tekstual dan kontekstual kepada jamaahnya.

”Serta saya juga melakukan dakwah-dakwah yang sederhana tentang toleransi dan cinta kasih. Sedangkan Nyai Inayah Rohmaniyah telah melakukan riset terhadap kelompok ekstremisme di beberapa tempat. Baik dilakukan dilakukan di kelompok kampus,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Menurut Inayah Rohmaniyah, dari riset yang dilakukannya ini ditemui banyak hal tentang karakteristik kelompok tersebut. Di mana karakteristiknya adalah berdakwah dengan mematikan akal dan hanya merujuk sumber tunggal. Serta dakwah yang gunakan adalah dakwah yang dimulai dari kehidupan sehari-hari yang menjadi kebutuhan masyarakat.

”Begitu juga dengan pendekatan yang mereka lakukan seringkali melakukan pendekatan yang soft, care dan terbuka yang mudah diterima oleh masyarakat,” katanya.
Bahkan, tambahnya, ada beberapa temuan menarik dari riset tersebut, kelompok perempuan sangat aktif baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Hal ini bertentangan dengan narasi gender yang selama ini digunakan.

Diakui olehnya, ulama perempuan ini modal yang luar biasa. Diakui, paska pembubaran makin besar, menurut di lapangan susah untuk dilihat. Mereka door to door, kurang lebih strateginya bukan hanya di public dan lebih banyak perempuan yang bermain.

”Bahkan, saat ini HTI masuk ke berbagai ormas dan membuat ormas tersebut berubah haluan dengan menggunakan konsep khilfah. Salah satunya, di Gorontalo hamper semua ASN dimasuki oleh kelompok konservatif,” tegasnya.

Apa yang ditemui oleh kedua narasumber ini, disepakati oleh penanggap yaitu Adlin Silla yang merupakan ketua Puslitbang Kementerian Agama yang mendapati hal tersebut di lingkungan Kementerian agama. Saat ini, Kementerian Agama juga telah membuat aplikasi untuk mendeteksi ekstremisme kekerasan yang dilakukan oleh ASN. Hal lainnya, yang dilakukan oleh kementerian agama adalah dengan menerapkan moderasi beragama.

”Saat ini, moderasi berapa sudah diterapkan kepada para penyuluh agama dengan berbagai latarbelakang. Indikator dari moderasi beragama ini sudah dilakukan di untuk rekrutmen dosen UIN. Kedepan, indikator moderasi beragama berapa ini bisa diterapkankepada guru-guru agama dan PKN,” ucapnya.

Sedangkan menurut Direktur Rahima Pera Sopariyanti, telah melakukan pendidikan kepada ulama perempuan di berbagai tempat untuk mendorong kapasitas ulama perempuan untuk melakukan kontra narasi dan memberikan narasi alternatif. Dari pelatihan tersebut, para ulama perempuan ini bisa lebih berani untuk melakukan kontra narasi dan dialog kepada orang-orang yang berbeda. Hal itu dilakukan untuk bisa merangkul kembali orang-orang yang berbeda tersebut.

”Rahima menyiapkan meme yang sederhana sebagai bekal kepada para ulama perempuan. Nanya strategi tidak bisa diseragamkan tergantung arena mana yang digunakan, keluarga, kampus atau sekolah dan di masjid, kantor, di kampong harus bekerjsama dengan tokoh masyarakat, kita perlu strategi di arena mana,” pungkasnya.

TERBARU

Konten Terkait