32.1 C
Jakarta
Jumat, 24 Mei 2024

Belajar Toleransi dari Kasepuhan Ciptagelar

Hasna Azmi Fadhilah

“Mbak betulan mau ke Ciptagelar?” tanya seorang kolega senior yang seakan tidak percaya ketika saya mengutarakan niat perjalanan saya.

“Iya, Bu. Sudah saya kontak perwakilan dari adatnya,” ujar saya yakin.

“Ya sudah. Pokoknya hati-hati saja, medannya menantang mbak. Siap-siap ya!”

Nada peringatan dari wanita paruh baya tersebut saya jawab sambil mengangguk-angguk kepala. Memang seberapa berat sih medannya? Tanya saya dalam hati. Toh, saya pernah beberapa kali naik gunung. Dan Halimun sejatinya tidak akan jauh berbeda, pikir saya enteng. Saking santainya, menjelang traveling ke sana, saya bahkan tidak membawa jaket tebal barang satu pun. Betul-betul nekat.

Perjalanan dari terminal Sukabumi ke Kasepuhan Ciptagelar sebenarnya hanya memakan waktu sekitar tiga jam tergantung kondisi jalan dengan ojek motor, namun ketika saya sampai disana hujan gerimis sempat menyapa sejenak, dan hal ini membuat pengemudi ojek yang saya tumpangi menjadi super hati-hati.

Selain itu, akses jalan yang kami lalui betul-betul terjal, terdiri dari batu-batu alam besar dan tanah liat coklat basah karena musim penghujan yang mulai datang, memang agak menyulitkan motor untuk bergerak cepat. Dan seperti yang sudah diwanti-wanti, kondisi jalan menanjak kesana membuat saya tak berhenti berdzikir mengingat kematian, bagaimana tidak kondisi jalan yang tak mulus memaksa motor berada hanya satu dua senti dari bibir jurang!

Sore menjelang Ashar, tibalah saya di kampung Ciptagelar. Oh ya, masyarakat adat di sini sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Suku Baduy, bedanya masyarakat adat Ciptagelar jauh lebih terbuka terhadap perkembangan teknologi dan media sosial. Hal ini dapat dilihat dari adanya fasilitas internet dan TV di beberapa rumah penduduk. Bahkan pihak Kasepuhan Ciptagelar sudah memiliki website dan channel TV pribadi untuk ‘menggelarkan’ atau mempromosikan nilai-nilai dan budaya adat mereka. Beberapa rumah di sana memiliki banyak buku dan catatan peninggalan dari generasi sebelumnya.

Menariknya, keterbukaan mereka juga merambah pada aspek pelayanan tamu. Ketika berkunjung ke sana, saya betul-betul dijamu layaknya saudara sendiri. Bukan hanya diajak berdiskusi di depan perapian hangat dengan segelas kopi dan jajanan ringan, tapi juga disediakan kamar untuk menginap selama di sana, gratis!
Selain suasana kekeluargaan yang dihadirkan oleh pihak kasepuhan, hal yang membuat saya iri adalah tata krama masyarakat di sini. Dengan tingkat pendapatan yang tidak setinggi masyarakat kota, justru tingkat kriminalitas di daerah ini malah NOL persen. Kaget? Saya juga!

Ketika saya tanya apa kunci masyarakat disini bisa hidup begitu nyaman dan damai? Meski jika dilihat secara kasat mata, hidup mereka sangatlah sederhana. Perlu dicatat, padi yang mereka tanam dilarang untuk dijual sehingga mereka hanya mengandalkan hasil berkebun, berternak, berdagang, dan mata pencaharian lain. Juru bicara kasepuhan menjawab enteng, mereka percaya apa yang mereka lakukan itulah yang akan mereka tuai.

Lebih lanjut, laki-laki yang pernah tinggal di Kanada dan Amerika tersebut, memberikan contoh aneh bin nyata dari lumbung padi mereka. Di sini, warga percaya bahwa padi adalah sumber kehidupan karena makanan pokok mereka berasal dari padi. Nah, tiap tahun katakanlah mereka mereka hanya panen 12 ikat besar dengan hitungan 1 ikat habis untuk satu bulan bagi satu keluarga dan juga tamu atau pengunjung yang mampir dan menginap di kasepuhan.

Kalau dihitung secara matematika dunia, tentu di penghujung tahun mereka akan kehabisan padi yang mereka punyai, namun hal itu ternyata tidak berlaku. Justru ketika semakin banyak tamu yang mereka jamu, beras yang mereka punyai tidak kunjung habis hingga akhir tahun. Mendengar cerita tersebut, saya mengangguk-angguk percaya sambil menimpali, “saya juga yakin Pak. Rejeki tidak pernah tertukar dan selalu ada saja ketika kita banyak memberi.”

Hal lain yang membuat saya terkagum-kagum akan nilai-nilai dan budaya yang dianut oleh Kasepuhan Ciptagelar adalah bagaimana mereka memperlakukan sesama. Masyarakat adat di sini terkenal akan keluhuran budi dan tata kramanya. Mereka sendiri mengaku meski berbeda-beda keyakinan/kepercayaan/agama, fondasi ketuhanan tersebut mereka jadikan ‘ageman’ atau arti harfiahnya adalah pakaian.

Pakaian sejatinya dimaknai sebagai pelindung tubuh, cerminan diri ini harusnya direfleksikan secara nyata dalam perilaku mereka sehari-hari. Tidak hanya memaknai agama secara nyata, warga kasepuhan juga menjiwai makna ‘kasepuhan’ itu sendiri. Apa artinya? Kasepuhan yang diambil dari kata dasar ‘sepuh’ atau ‘orangtua’, dicitrakan sebagai orang yang sudah banyak menimba asam garam kehidupan.

Tentu dengan memiliki pikiran dan wawasan yang luas, karena sudut pandang inilah mereka ketika dihadapkan pada suatu masalah cenderung tidak emosional, bersikap arif, dan selalu berjiwa pamong/mengasuh. Dengan kombinasi aspek-aspek tadi, tak salah rasanya masyarakat Kasepuhan Ciptagelar dapat hidup tentram di Kawasan Gunung Halimun, Sukabumi.

Dan satu lagi, perempuan di sana sangatlah berdaya. Meski sebagian besar mereka tidak menempuh sekolah formal, mereka tetap belajar kemampuan praktis, seperti bertani, public speaking, dan lain-lain. Sederhananya, mereka mempelajari ilmu-ilmu untuk bertahan hidup dengan menghargai prinsip-prinsip kelestarian lingkungan.
Selama di sana, para ibu dan anak-anak gadis sibuk memelihara tanaman herbal, mengolah makanan hingga melakukan kerajinan tangan. Semuanya tampak gembira dan tak pernah mengeluh. Mereka bahkan selalu terbuka dengan pengunjung yang datang, dengan catatan tamu-tamu tersebut menghargai nilai-nilai dan tata budaya yang berlaku di Ciptagelar.

Di tengah hiruk pikuk masyarakat urban yang kian hari makin doyan ngobrol politik sambil adu domba, berkunjung ke Kasepuhan Ciptagelar memberikan saya pencerahan bahwa menjadi toleran, bersikap bijaksana adalah sebuah sikap yang perlu dibudayakan, digelar dan tidak melulu harus menunggu seseorang untuk mengecap pendidikan formal yang tinggi, toh gelar doktor atau professor sekalipun tidak menjamin kita berbudi luhur.

Kuncinya hanya menerapkan nilai-nilai agama serta menjiwai diri dengan karakter ‘sepuh’ yang mana tidak mempermasalahkan hal-hal sepele, memberdayakan perempuan dan generasi muda, menghargai perbedaan, serta menjaga perilaku serta ucapan.

Sumber : https://mubadalah.id/belajar-toleran-dari-kasepuhan-ciptagelar/

Biodata Penulis : Penulis merupakan dosen di IPDN dan masuk menjadi komunitas Puan Menulis.

TERBARU

Konten Terkait